Andrie Yunus KontraS Jalani 7 Operasi, Bedah Mata hingga Cangkok Kulit usai Penyiraman Air Keras

3 days ago 2
Andrie Yunus KontraS Jalani 7 Operasi, Bedah Mata hingga Cangkok Kulit usai Penyiraman Air Keras Aktivis KontraS, Andrie Yunus.(Dok. Pusat Studi Hukum dan Kebijakan Indonesia (PSHK))

BADAN Pekerja KontraS, Dimas Bagus Arya, mengungkap kondisi terkini Wakil Koordinator KontraS, Andrie Yunus, yang menjadi korban penyiraman air keras dan dugaan percobaan pembunuhan berencana pada 12 Maret 2026 lalu.

Dimas menyatakan bahwa setelah 156 hari atau tepat lima bulan sejak peristiwa tragis tersebut, Andrie masih harus berjuang dalam proses pemulihan yang panjang. Bahkan, ia dijadwalkan kembali menjalani operasi besar pada akhir Agustus 2026.

“156 hari atau besok genap 5 bulan Andrie semenjak kemudian dijadikan target percobaan pembunuhan berencana oleh alat pertahanan negara yakni anggota Bais TNI,” ujar Dimas dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (13/8).

Rincian Tujuh Operasi Besar

Berdasarkan diagnosis awal, Andrie mengalami luka bakar pada 24 persen bagian tubuhnya serta kerusakan kornea mata kanan mencapai 44 persen. Hingga saat ini, Andrie tercatat telah menjalani tujuh operasi besar yang terdiri dari tiga operasi mata dan empat operasi kulit.

Dimas merinci jadwal tindakan medis tersebut sebagai berikut:

  • 13 Maret 2026: Operasi mata pertama di RSJM oleh tim dokter mata Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), sehari setelah kejadian.
  • 25 & 28 Maret 2026: Rangkaian operasi mata lanjutan.
  • Operasi Kulit: Empat tindakan medis termasuk cangkok atau transplantasi kulit untuk menangani area luka bakar.

Kondisi Mata dan Risiko Motorik

Persoalan serius masih membayangi kondisi penglihatan Andrie. Paparan air keras menyebabkan kerusakan sel kornea yang membuat penglihatannya sempat hanya mampu menangkap cahaya tanpa bisa mengidentifikasi objek maupun huruf besar.

Meski demikian, tim medis menemukan titik terang karena rembesan air keras tidak sampai merusak pupil. Hal ini memberikan peluang untuk mempertahankan fungsi penglihatan dan meminimalkan risiko kebutaan permanen.

Selain mata, Andrie juga menghadapi ancaman jaringan parut yang berpotensi menimbulkan keloid dan kontraktur (pemendekan jaringan otot). Kondisi ini dapat mengganggu fungsi motorik, terutama pada bagian tubuh yang aktif bergerak.

“Bagian leher itu masih sering mengalami kontraktur. Sudah memasang sebuah alat yang namanya Pressure Garment,” jelas Dimas. Alat tersebut berfungsi membantu pemulihan kulit dan menyamarkan bekas luka melalui prosedur rekonstruksi.

Trauma Psikologis dan Proses Hukum

Dari aspek psikologis, tim dokter dalam persidangan militer pada Juni 2026 mengungkapkan bahwa Andrie mengalami severe anxiety atau kecemasan berat. Dimas menilai kondisi ini diperparah oleh ketidakpastian penyelesaian kasus hukum.

“Kondisi tersebut berkaitan dengan proses penyelesaian kasus yang tidak menentu, termasuk ketika Andrie masih diminta hadir sebagai saksi korban dalam persidangan militer,” tambahnya.

Saat ini, Andrie sudah tidak menjalani rawat inap, namun tetap melakukan rawat jalan secara intensif di RSCM. Ia masih harus menjalani pemeriksaan berkala, fisioterapi untuk mengembalikan fungsi gerak, serta bersiap menghadapi satu operasi besar lanjutan pada akhir bulan ini. (H-3)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |