Jakarta, CNN Indonesia --
Misi bersejarah Artemis II sukses menorehkan pencapaian baru, namun menyisakan catatan teknis setelah kapsul Orion yang membawa mereka mengalami sebagian kerusakan pada perisai panas saat perjalanan pulang ke Bumi.
Para astronaut dalam misi tersebut memastikan proses masuk kembali ke atmosfer berlangsung lancar. Meski begitu, komandan misi, Reid Wiseman, melaporkan beberapa bagian pada perisai panas utama kapsul Orion hangus usai mendarat di Samudra Pasifik pada Jumat pekan lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Puncak dari misi berisiko tinggi ini menjadi ujian krusial bagi kapsul Orion buatan Lockheed Martin saat meluncur kembali ke atmosfer Bumi dengan kecepatan sekitar 32 kali kecepatan suara. NASA berencana menggunakan kapsul tersebut kembali untuk penerbangan uji coba di orbit Bumi menjelang pendaratan di Bulan tahun depan.
"Kami mendarat dengan cepat dan penuh semangat," kata Reid Wiseman, komandan misi Artemis II, kepada para wartawan dalam konferensi pers pertama awak misi tersebut sejak kembali ke Bumi, mengutip Reuters, Jumat (17/2).
Usai misi ini, para insinyur NASA akan menganalisis sejumlah besar data untuk menilai seberapa baik kinerja wahana Orion. Mereka kemungkinan besar akan mencermati dengan saksama perisai panas, yang merupakan penghalang penting yang melindungi awak dari suhu hingga 2.760 derajat Celcius selama proses kembali dari luar angkasa.
Selama misi tanpa awak Artemis I tahun 2022, pelindung panas Orion mengalami kerusakan lebih parah dari yang diperkirakan, dengan munculnya retakan kecil dan beberapa lapisan yang hangus selama re-entry. Hal ini memicu penyelidikan intensif selama dua tahun.
Meskipun NASA tidak memperbarui perisai panas, mereka mengubah sudut dan lintasan masuknya awak Artemis II ke atmosfer Bumi untuk mengurangi panas.
Wiseman mengatakan bahwa ia dan pilot misi Victor Glover "mungkin melihat dua titik kerusakan akibat panas" selama proses masuk kembali. Setelah kapsul dievakuasi dari laut oleh kapal angkatan laut, ia melihat "sedikit kerusakan akibat panas pada bagian yang disebut 'shoulder'," merujuk pada tepi perisai panas.
Foto-foto kapsul setelah awak Artemis II kembali menunjukkan bekas putih yang tidak biasa di tepi pelindung panas. Namun, Administrator NASA Jared Isaacman meredam kekhawatiran tersebut dengan mengatakan bahwa kapsul tersebut mengalami hal serupa dalam uji coba di darat dengan suhu tinggi.
"Tidak ada bagian yang hilang," kata Isaacman, sambil menambahkan bahwa ia telah melihat foto-foto bawah air yang memperlihatkan perisai panas itu mengapung di lautan tak lama setelah mendarat di permukaan air.
"Perisai panas itu berfungsi sesuai harapan, dan saya sangat senang, karena sekarang tugas ini sudah selesai," lanjutnya.
Glover menggambarkan proses masuk kembali awak pesawat ke atmosfer sebagai "13 menit dan 36 detik yang sangat menegangkan."
Saat itu, pejabat NASA mengatakan kecepatan maksimum awak pesawat selama proses masuk kembali adalah 39.692 kilometer per jam, atau sekitar Mach 32. Angka ini masih di bawah rekor Apollo 10, yang mencatatkan kecepatan 39.897 km per jam, pada 1969 sebagai kecepatan tertinggi yang pernah dicapai manusia.
Namun, Glover mengatakan bahwa layar di dalam Orion menunjukkan kecepatan mereka mencapai kecepatan hingga 48.021 km per jam. Namun begitu, NASA kemungkin akan merilis angka baru, karena mengukur kecepatan di ruang angkasa memang sulit.
Setelah gesekan atmosfer memperlambat kecepatan Orion, sekelompok parasut awal memperlambat mereka saat memasuki atmosfer bawah. Kemudian, parasut-parasut tersebut terlepas sebelum sekelompok parasut terakhir yang membawa mereka mendarat dengan lembut pada kecepatan 27 kilometer per jam di permukaan laut.
"Kami kembali ke posisi terjun bebas. Saya belum pernah mencoba BASE jumping, belum pernah skydiving, tapi kalau kamu melompat mundur dari gedung pencakar langit, rasanya persis seperti itu," ungkap Glover.
Orion adalah kapsul yang akan mengangkut manusia ke dan dari luar angkasa. Kapsul ini akan diluncurkan dari Bumi menggunakan roket Space Launch System milik badan antariksa tersebut.
Kru di masa depan akan menggunakan kapsul ini untuk berlabuh dengan pendarat bulan yang dibuat oleh SpaceX milik Elon Musk dan Blue Origin milik Jeff Bezos.
Pendarat-pendarat tersebut akan mendaratkan astronaut di Bulan paling cepat pada tahun 2028. Namun, tantangan teknis terkait pendarat-pendarat itu berpotensi menghambat target tersebut.
Modul pendarat itu akan menjalani uji coba di orbit Bumi untuk pertama kalinya selama misi Artemis III, yang direncanakan pada tahun depan.
"Mereka bisa memasang Orion Artemis III ke Space Launch System besok dan meluncurkannya, dan awak pesawatnya akan dalam kondisi prima," tutup Wiseman.
(wpj/dmi)
Add
as a preferred source on Google

2 hours ago
4

















































