Jakarta, CNBC Indonesia - Bayang-bayang krisis energi global merambat ke sektor penerbangan Eropa. Dalam hitungan minggu, maskapai-maskapai di kawasan itu diperkirakan akan menghadapi tekanan serius akibat menipisnya pasokan avtur, seiring berlarutnya konflik antara Iran dan blok Amerika Serikat-Israel.
Direktur Eksekutif International Energy Agency, Fatih Birol, memperingatkan bahwa Eropa mungkin hanya memiliki cadangan bahan bakar jet untuk sekitar enam minggu ke depan. Jika pasokan minyak dari Timur Tengah tidak segera pulih, gangguan penerbangan disebut tinggal menunggu waktu.
"Saya dapat mengatakan bahwa dalam waktu dekat kita akan mendengar kabar bahwa beberapa penerbangan dari kota A ke kota B mungkin dibatalkan akibat kekurangan bahan bakar jet," ujar Birol kepada The Associated Press, dikutip Jumat (17/4/2026).
Peringatan ini muncul di tengah lonjakan harga energi global yang dipicu konflik sejak akhir Februari. Penutupan efektif Selat Hormuz oleh Iran, jalur vital ekspor minyak dari kawasan Teluk, telah mengguncang rantai pasok energi dunia.
Dampaknya mulai terasa di level maskapai. KLM, bagian dari grup Air France-KLM, mengumumkan akan memangkas 160 penerbangan dalam sebulan ke depan akibat tingginya harga bahan bakar jet berbasis kerosin.
Maskapai asal Belanda itu menegaskan bahwa keputusan tersebut bukan karena kelangkaan fisik bahan bakar, melainkan tekanan biaya operasional.
"Ini menyangkut sejumlah terbatas penerbangan di dalam Eropa yang, karena kenaikan biaya kerosin, saat ini tidak lagi layak secara finansial untuk dioperasikan. Tidak ada kekurangan kerosin," kata KLM.
Meski demikian, maskapai memastikan gangguan terhadap penumpang akan diminimalkan. "KLM memperkirakan periode libur Mei akan sibuk dan memastikan penumpang dapat melakukan perjalanan ke tujuan liburan mereka sesuai rencana."
Langkah ini mencerminkan tekanan finansial yang semakin besar di industri penerbangan, bahkan bagi maskapai yang telah melakukan lindung nilai terhadap harga bahan bakar. Air France-KLM sendiri telah melindungi 87% eksposur bahan bakarnya, namun tetap memilih memangkas penerbangan untuk menekan kerugian.
Pemangkasan difokuskan pada rute-rute sibuk seperti antara Bandara Schiphol Amsterdam ke London dan Düsseldorf, di mana penumpang relatif mudah dialihkan ke penerbangan lain.
Meski sejauh ini belum terjadi kelangkaan nyata, situasi diperkirakan akan memburuk. Pengiriman bahan bakar yang sudah berangkat sebelum perang masih terus tiba di Eropa, namun gelombang terakhir kini telah sampai.
Birol menyebut cadangan yang tersisa semakin menipis. "Mungkin hanya tersisa sekitar enam minggu bahan bakar jet," katanya.
Sebelumnya, kelompok lobi Airports Council International Europe bahkan telah memperingatkan Uni Eropa bahwa kawasan itu hanya berjarak tiga minggu dari potensi kekurangan bahan bakar.
Dalam kondisi normal, bandara dan maskapai biasanya memiliki cadangan sekitar enam minggu. Namun, konflik yang berkepanjangan membuat cadangan tambahan terkuras, sementara pemasok alternatif tidak memiliki kapasitas cukup untuk menggantikan pasokan dari Teluk.
Birol menggambarkan situasi ini dengan analogi tajam. "Dulu ada sebuah grup bernama Dire Straits. Sekarang ini benar-benar selat yang genting, dan hal ini akan memiliki dampak besar bagi ekonomi global. Semakin lama berlangsung, semakin buruk dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi dan inflasi di seluruh dunia," tuturnya.
Krisis ini tidak hanya berdampak pada penerbangan, tetapi juga ekonomi global secara luas. Birol memperingatkan konsekuensi lanjutan berupa lonjakan harga energi di berbagai sektor.
"Dampaknya adalah harga bensin yang lebih tinggi, harga gas yang lebih tinggi, dan harga listrik yang tinggi," katanya, seraya menambahkan bahwa beberapa wilayah dunia akan terdampak lebih parah dibanding lainnya.
Harga minyak mentah Brent, masih bertahan lebih dari 30% di atas level sebelum perang. Kenaikan harga energi ini juga menambah tekanan politik bagi Presiden AS Donald Trump.
(luc/luc)
Addsource on Google

1 hour ago
4

















































