Awas! Paparan Polusi Udara dan Emisi Kendaraan Tingkatkan Risiko Kanker Paru

4 hours ago 5
Awas! Paparan Polusi Udara dan Emisi Kendaraan Tingkatkan Risiko Kanker Paru Ilustrasi: Warga mengenakan masker dengan latar belakang gedung-gedung bertingkat berselimut kabut asap di Jakarta.(ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra)

DOKTER Spesialis Paru sekaligus Subspesialis Onkologi Toraks MRCCC Siloam Semanggi, dr. Linda Masniari, Sp.P(K), mengimbau masyarakat untuk aktif mengurangi paparan polusi udara. Kualitas udara yang buruk terbukti berkontribusi meningkatkan risiko gangguan pernapasan kronis hingga kanker paru.

“Kanker paru hampir 85 persen penyebabnya karena merokok, dan 15 persen penyebabnya bisa karena non-smoker. Jadi kalau kita perokok pasif, itu kemungkinan kanker parunya meningkat 20 sampai 30 persen,” kata Linda dikutip Antara, Selasa (2/9),

Kendati kebiasaan merokok tetap menjadi faktor pemicu utama, Linda menjelaskan bahwa populasi non-perokok juga menghadapi risiko akibat faktor lingkungan sekitar. Paparan emisi gas buang kendaraan bermotor, asap pembakaran kayu bakar untuk memasak, hingga lokasi tempat tinggal yang berdekatan dengan tempat pembuangan akhir (TPA) sampah turut menjadi pemicu kanker paru.

Selain lingkungan pemukiman, risiko tinggi juga mengintai pekerja di sektor industri tertentu.

“Lingkungan kerja seperti pertambangan, galangan kapal, dan pabrik semen merupakan kelompok yang perlu memperhatikan risiko paparan bahan berbahaya,” ujarnya.

Faktor genetik atau riwayat keluarga dengan riwayat kanker paru juga memperbesar potensi seseorang mengidap penyakit tersebut.

Kelompok Usia Rentan

Di Indonesia, kasus kanker paru paling banyak ditemukan pada kelompok usia di atas 50 tahun. Oleh karena itu, deteksi dini dan tindakan pencegahan menjadi krusial.

Sebagai langkah preventif di tengah penurunan kualitas udara, Linda menyarankan warga untuk membatasi aktivitas di luar ruangan (outdoor) serta menghentikan kebiasaan merokok di lingkungan keluarga guna melindungi perokok pasif.

“Jadi udara yang sehat itu penting sekali. Kalau udara di lingkungan kita tidak bagus, kita lebih baik kurangi aktivitas outdoor dan periksakan diri sesuai tingkat risikonya,” kata Linda. (Ant/P-4)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |