Asia Dengue Summit ke-9 di Singapura, Juni 2026,(MI/HO)
DENGUE bukan lagi sekadar ancaman bagi kesehatan masyarakat, melainkan telah bertransformasi menjadi beban ekonomi nasional yang signifikan. Berdasarkan penelitian terbaru yang dipresentasikan pada Asia Dengue Summit ke-9 di Singapura, Juni 2026, total kerugian ekonomi akibat dengue di Indonesia pada 2024 diperkirakan mencapai US$550,9 juta atau setara dengan hampir Rp9 triliun.
Angka fantastis ini mencakup lebih dari 2 juta kunjungan rawat inap yang memberikan tekanan luar biasa pada sistem layanan kesehatan. Tanpa pengendalian yang sistematis, lonjakan kasus dengue dikhawatirkan akan menghambat target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8% pada 2029.
Beban Finansial di Luar Jaminan Kesehatan
Studi dari Center for Health Financing Policy and Insurance Management (Pusat KPMAK) Universitas Gadjah Mada (UGM) mengungkapkan fakta krusial: meski sebagian besar pasien dijamin oleh BPJS Kesehatan melalui Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), beban finansial rumah tangga tetap tinggi.
Dr. Diah Ayu Puspandari, Apt., MBA., M.Kes., peneliti senior UGM, menjelaskan bahwa JKN belum sepenuhnya menghapus beban ekonomi keluarga. Pasien masih harus menanggung biaya non-medis seperti transportasi, konsumsi pendamping, hingga kehilangan pendapatan akibat tidak bekerja.
| Total Beban Ekonomi Nasional | Hampir Rp9 Triliun |
| Biaya Medis Langsung (JKN) | Sekitar Rp3 Triliun |
| Biaya Mandiri Pasien (Out-of-Pocket) & Produktivitas | Sekitar Rp3,5 Triliun |
| Biaya per Episode (Pasien JKN) | Rp1,09 Juta – Rp1,33 Juta |
| Biaya per Episode (Tanpa Asuransi) | Rp4,27 Juta – Rp5,60 Juta |
Vaksinasi sebagai Investasi Ekonomi
Menyikapi tingginya beban tersebut, studi dari Center for Child Health (CCH-PRO) UGM menunjukkan bahwa program vaksinasi dengue pada anak usia sekolah merupakan intervensi yang sangat hemat biaya (cost-effective). Dalam jangka panjang (20 tahun), vaksinasi diproyeksikan mampu mencegah 1,1 hingga 1,3 juta tahun hidup sehat yang hilang (DALY).
Dari perspektif masyarakat luas, investasi pada pencegahan justru menghasilkan penghematan bersih sebesar USD 329,3 juta hingga USD 731,5 juta karena berkurangnya kerugian produktivitas dan absensi sekolah.
Komitmen Pemerintah dan Kolaborasi Lintas Sektor
Koalisi Bersama (KOBAR) Lawan Dengue mendorong agar pencegahan terintegrasi menjadi prioritas nasional. Ketua KOBAR Lawan Dengue, dr. H. Suir Syam, M.Kes, M.M.R, menekankan pentingnya melihat pencegahan sebagai investasi jangka panjang bagi bangsa.
Pemerintah melalui Wakil Menteri Kesehatan RI, dr. Benjamin Paulus Octavianus, Sp.P, FISR, menyatakan komitmennya untuk mencapai Zero Dengue Deaths 2030. Saat ini, Kementerian Kesehatan tengah menyusun Rencana Aksi Nasional (RAN) Pengendalian Dengue 2026–2029.
Strategi Pencegahan Terintegrasi:
- Pengendalian vektor konvensional (PSN 3M Plus dan Jumantik).
- Inovasi teknologi (Wolbachia dan Vaksinasi Dengue).
- Penguatan surveilans dan deteksi dini berbasis data.
- Edukasi berkelanjutan dan peningkatan tata laksana klinis.
Langkah ini juga didukung oleh dunia usaha melalui KADIN, yang memandang kesehatan sebagai fondasi utama produktivitas tenaga kerja dan daya saing ekonomi nasional. Dengan kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat, Indonesia diharapkan mampu memutus rantai penularan dengue dan memperkuat ketahanan kesehatan nasional. (Z-1)


















































