Benarkah Stres Bikin Rambut Rontok? Ini Penjelasan Medisnya

2 weeks ago 27
Benarkah Stres Bikin Rambut Rontok? Ini Penjelasan Medisnya ilustrasi(Magnific)

KERONTOKAN rambut merupakan bagian alami dari siklus pertumbuhan folikel. Namun, jika jumlah rambut yang rontok mendadak meningkat signifikan, kondisi tersebut kerap memicu kecemasan. Salah satu faktor utama yang sering dikaitkan dengan kerontokan masif adalah tingkat stres.

Pakar kesehatan mengonfirmasi bahwa stres fisik maupun emosional memang dapat mengganggu siklus pertumbuhan rambut. Salah satu kondisi medis yang paling sering memicu fenomena ini adalah telogen effluvium, yakni kerontokan sementara yang terjadi saat sejumlah besar folikel rambut memasuki fase istirahat secara bersamaan.

Mekanisme Hormon Kortisol dan Fase Istirahat Rambut

Saat seseorang mengalami tekanan psikologis atau fisik, tubuh merespons dengan memproduksi hormon stres, termasuk kortisol, dalam jumlah lebih tinggi. Jika kondisi ini berlangsung berat atau berkepanjangan, lonjakan hormon tersebut memaksa folikel rambut berpindah dari fase pertumbuhan ke fase istirahat (fase telogen) lebih cepat dari biasanya.

Uniknya, kerontokan tidak terjadi seketika saat stres memuncak. Efek penipisan rambut biasanya baru terlihat beberapa bulan setelah peristiwa pemicu stres terjadi. Jeda waktu yang cukup panjang ini kerap membuat penderita tidak menyadari keterkaitan antara kerontokan rambut dan tekanan emosional yang dialami sebelumnya.

Mengenal Kondisi Telogen Effluvium

Telogen effluvium ditandai dengan rontoknya helai rambut dalam jumlah banyak saat mandi, menyisir, atau sekadar disentuh. Berbeda dengan kebotakan pola tertentu, penipisan akibat kondisi ini terjadi secara menyeluruh di seluruh area kulit kepala.

Selain beban emosional, telogen effluvium dapat dipicu oleh penyakit berat, demam tinggi, prosedur operasi, penurunan berat badan drastis, defisiensi nutrisi, hingga fluktuasi hormonal.

Kabar baiknya, kerontokan jenis ini tidak bersifat permanen. Berdasarkan data Cleveland Clinic, setelah faktor pemicu stres teratasi dan tubuh pulih, folikel rambut umumnya dapat kembali tumbuh secara bertahap dalam kurun waktu beberapa bulan.

Faktor Pemicu Lain

Kendati demikian, tidak semua kasus rambut rontok bersumber dari stres. Ada beragam faktor pemicu lain seperti genetik (faktor keturunan), perubahan hormon, kondisi medis khusus, efek samping obat, hingga kebiasaan perawatan rambut yang salah.

Kerontokan akibat telogen effluvium berkembang relatif cepat dan merata, sedangkan kerontokan akibat faktor keturunan berkembang lebih lambat dan terkonsentrasi di area tertentu.

Guna meminimalkan risiko kerontokan, masyarakat diimbau untuk menjaga pola tidur, mengonsumsi makanan bergizi seimbang, mengelola stres, serta menghindari penataan rambut ekstrem seperti penggunaan alat pemanas berlebih atau ikatan rambut yang terlalu kencang.

Imbauan Medis: Apabila kerontokan berlangsung terus-menerus, memburuk hingga membentuk pitak (bald spot), atau disertai gejala lain pada kulit kepala, masyarakat disarankan segera berkonsultasi dengan dokter spesialis dermatologi untuk mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat. (Ant/P-4)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |