Berpacu dengan Waktu, Ratusan Pekerja Masih Terjebak di Terowongan Banjir Nepal

3 weeks ago 27
Berpacu dengan Waktu, Ratusan Pekerja Masih Terjebak di Terowongan Banjir Nepal Ratusan pekerja terjebak dalam terowongan akibat banjir bandang di perbatasan Nepal-Tibet. Tim SAR gabungan internasional terus berpacu dengan waktu melakukan penyelamatan.(AFP)

HARAPAN dan kecemasan menyelimuti keluarga dari sekitar 600 pekerja yang diperkirakan masih terjebak di dalam jaringan terowongan berlumpur di sepanjang Sungai Trishuli, Nepal. Tim penyelamat menggempur lereng bukit menggunakan bahan peledak dan memompa udara ke area proyek hidroelektrik Trishuli-3A demi menyelamatkan nyawa para korban sebelum waktu habis.

"Saya berharap kami bisa menemukannya. Saya berharap dia bisa pulang ke rumah," ujar Anushila Bhandari, istri dari Aurus Bhandari, 33, seorang insinyur yang hilang di lokasi proyek.

Otoritas manajemen bencana Nepal mencatat korban tewas akibat bencana banjir di perbatasan Nepal-Tibet ini telah mencapai 939 jiwa. Jumlah korban hilang disesuaikan menjadi 3.925 orang, dengan 592 di antaranya merupakan warga negara asing. Sekitar satu dari tujuh orang yang hilang diperkirakan adalah pekerja di pemadam listrik tenaga air (PLTA).

Upaya pencarian dipimpin oleh tim internasional yang melibatkan personel militer Nepal dan Tiongkok, serta dibantu oleh para ahli dari India, Korea, dan Australia. Perdana Menteri Nepal, Balendra Shah, menyatakan sejauh ini 279 orang berhasil dievakuasi dari area proyek, dan total 11,379 warga telah diselamatkan dari berbagai wilayah terdampak.

Harapan bahwa para pekerja masih bertahan hidup terus dijaga keluarga korban. Sita Pandey, yang suaminya bekerja di PLTA saat banjir menerjang, menaruh kepercayaan pada fasilitas di dalam terowongan.

"Saya masih memiliki harapan 50% dia masih hidup karena ada sistem oksigen di dalam," tuturnya kepada harian Kantipur.

Namun, lambatnya penanganan di lapangan memicu keprihatinan. Keluarga menilai langkah pemompaan udara seharusnya dilakukan lebih awal. Tim SAR sempat memasuki salah satu terowongan PLTA pada Senin, tetapi terpaksa mundur setelah tidak menemukan seorang pun di dalamnya.

"Semakin lama waktu berlalu, semakin mati harapan kami. Operasi ini harus bergerak jauh lebih cepat karena setiap detik sangat berarti bagi kami," kata Jiban Khadka, kerabat dari salah satu pekerja yang terperangkap.

Kondisi medan yang hancur menjadi hambatan utama. Insinyur asal Australia, Arnold Dix, yang membantu operasi pencarian bawah tanah secara jarak jauh, menggambarkan lokasi kejadian seperti permukaan bulan karena lanskap aslinya telah hilang diterjang banjir.

"Ada batu-batu besar yang lebih besar dari rumah, saya belum pernah melihat hal seperti itu seumur hidup saya. Ini adalah operasi yang sangat luar biasa," kata mantan ketua International Tunnelling Association tersebut.

Meskipun demikian, Dix menilai struktur bawah tanah mungkin memberikan perlindungan dari sapuan air banjir di permukaan.

Sementara itu, dampak bencana meluas hingga ke wilayah hilir. Di Distrik Chitwan, tim medis dan sukarelawan berpacu dengan waktu menguburkan hampir 300 jenazah yang terbawa arus sungai. Mengingat keterbatasan fasilitas pendingin, otoritas setempat terpaksa melakukan pemakaman sementara setelah mengambil sampel DNA untuk proses identifikasi oleh pihak keluarga di kemudian hari.

Bencana ini juga menerjang wilayah Tibet. Media pemerintah Tiongkok melaporkan 16 orang tewas dan 546 orang hilang. Pemerintah Tiongkok dan Nepal kini memperketat pengawasan informasi di dunia maya serta mengenakan sanksi bagi pihak yang menyebarkan spekulasi maupun informasi yang dianggap tidak akurat mengenai jumlah korban. (BBC/Z-2)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |