Warga merapikan selang yang akan digunakan untuk mengalirkan air dari mata air atau sendang ke rumahnya di Kalidadap 1, Selopamioro, Imogiri, Bantul, D.I Yogyakarta, Jumat (31/7/2026).(ANTARA/Andreas Fitri Atmoko)
STASIUN Klimatologi D.I. Yogyakarta, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan informasi perkembangan iklim tahun 2026. Berdasarkan pemantauan dinamika atmosfer dan laut terkini per 31 Juli 2026, fenomena El Nino berpeluang terjadi dalam kategori kuat yang berpotensi memicu kondisi kemarau lebih kering dari biasanya di wilayah D.I. Yogyakarta.
Kepala Stasiun Klimatologi D.I. Yogyakarta, Dr. Mamenun, S.Si, M.Si., menyampaikan, terkait tingkat curah hujan, BMKG memprediksi bahwa intensitas hujan di wilayah DIY selama tiga bulan ke depan (Agustus hingga Oktober 2026) berada pada kategori rendah, yaitu berkisar antara 0 hingga 20 mm per bulan. Sifat hujan secara umum diprakirakan Bawah Normal (BN).
Puncak musim kemarau di seluruh wilayah DIY diproyeksikan terjadi pada bulan Agustus 2026, dengan durasi kemarau berkisar antara 16 hingga 21 dasarian dan total curah hujan musim kemarau sekitar 250 hingga 400 mm. Musim kemarau diprediksi baru akan berakhir pada dasarian I dan II November 2026.
Menanggapi potensi dampak dari fenomena iklim tersebut, BMKG mengimbau pemerintah daerah, instansi terkait, serta seluruh masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan terhadap risiko kekeringan meteorologis beserta dampak turunannya.
"BMKG mengimbau kepada pemerintah daerah, institusi terkait dan seluruh masyarakat untuk lebih siap dan antisipatif terhadap dampak musim kemarau terutama di wilayah yang rentan terhadap bencana kekeringan meteorologis, seperti kebakaran hutan dan lahan serta berkurangnya ketersediaan air bersih," imbau Mamenun dalam keterangan resminya, Jumat (31/7).
Selain ancaman ketersediaan air bersih dan karhutla, BMKG juga menyoroti sektor pertanian yang rentan terdampak oleh penurunan curah hujan dan perpanjangan durasi kemarau ini. Mamenun menegaskan perlunya langkah konkret di sektor pertanian untuk mencegah kerugian yang lebih besar.
"Mewaspadai prediksi sifat hujan musim kemarau 2026 di Bawah Normal (BN), yang artinya kondisi musim kemarau diprediksi lebih kering dibandingkan rata-rata klimatologisnya," terang dia.
El Nino dapat mengakibatkan kekeringan yang berpeluang mulai bulan Juli hingga Desember 2026. Diperlukan tindakan antisipasif dengan mempersiapkan pola tanam yang sesuai agar tidak mengalami gagal panen terutama di wilayah-wilayah yang rentan terhadap kekeringan meteorologis melalui pengelolaan sumber daya air yang lebih efisien," jelas Mamenun.
Kondisi Atmosfer
Ia menambahkan, kondisi atmosfer saat ini menunjukkan aktifnya Monsun Australia yang ditandai dengan bertiupnya angin dari arah timur di wilayah Indonesia bagian selatan ekuator. Di samping itu, indeks El Nino Southern Oscillation (ENSO) berada pada kondisi moderat dan berpotensi meningkat.
"Indeks El Nino Southern Oscillation (ENSO) dalam kondisi moderat, El Nino kategori kuat berpeluang terjadi pada bulan Agustus sampai dengan Desember 2026," ujar Mamenun.
Ia menambahkan bahwa indikator iklim lainnya, yaitu Dipole Mode Index (DMI), saat ini berada dalam kategori netral, namun berpotensi bergeser menjadi DMI Positif pada periode September hingga Desember 2026.
Sementara itu, fenomena Madden Julian Oscillation (MJO) diprediksi tidak aktif di wilayah Indonesia, serta anomali suhu muka laut di perairan selatan DIY berkisar antara -0.5°C hingga 1.0°C (netral-hangat) dengan suhu 26°C hingga 28°C.
BMKG mengimbau masyarakat untuk terus memperbarui informasi iklim dan cuaca melalui saluran resmi BMKG Stasiun Klimatologi D.I. Yogyakarta guna mengantisipasi perubahan dinamika cuaca secara cepat dan akurat. (H-2)

















































