Personel BPBD Kabupaten Bekasi tak kenal lelah mengirimkan dan membagikan air bersih untuk warga terdampak kekeringan.(Dok Pemkab Bekasi)
BADAN Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bekasi merilis, hingga Minggu (2/8) pukul 22.00 WIB, ada 124 titik lokasi yang mengalami krisis air bersih di wilayahnya yang tersebar di 25 desa di 9 kecamatan.
“Dari 25 desa yang terdampak, 19 desa di antaranya berada di wilayah selatan Kabupaten Bekasi dan 6 desa di bagian utara,” demikian rilis BPBD yang dikutip dari laman Pemkab Bekasi, Selasa (4/8).
Dalam keterangannya, BPBD menyebutkan kemarau panjang tahun ini berdampak terhadap 14.801 kepala keluarga (KK) atau sekitar 45.816 jiwa.
Selain itu, bencana kekeringan juga berdampak terhadap 3.002 hektare lahan pertanian yang ada di 52 desa di 15 kecamatan.
Upaya keras terus dilakukan Pemerintah Kabupaten Bekasi berkolaborasi dengan stakeholder terkait guna membantu warga yang terdampak kekeringan.
Hingga 2 Agustus 2026, sedikitnya 3.600.300 liter air bersih telah didistribusikan ke 25 desa yang terdampak kekeringan.
Sebaran bantuan air bersih
Dari jumlah itu, sebanyak 1.353.000 liter dari BPBD Kabupaten Bekasi, 1.155.000 liter dari Perum Tirta Bhagasasi (PDAM), 720.000 liter dari Palang Merah Indonesia (PMI), 160.000 liter dari Yayasan SCK, dan 80.000 liter dari Baznas.
Kemudian 40.000 liter dari BBWS Ciliwung Cisadane, 33.00 liter dari PT Deltamas, 16.000 liter dari BBWS Citarum, 12.000 liter dari PT Hyundai, 10.000 liter dari PT Ejip, 8.000 liter dari Yayasan BMI, 8.300 dari CSR Jababeka, dan 5.000 liter dari DPC Gamki.
Adapun wilayah yang paling terdampak di Kabupaten Bekasi yakni Kecamatan Bojongmangu (39 titik) yang tersebar di 6 desa. Kecamatan Cibarusah (36 titik) tersebar di 5 desa, sedangkan Kecamatan Serang Baru (21 titik) tersebar di 6 desa. (H-2)

















































