Jakarta, CNN Indonesia --
Wakil Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sonny Harry Budiutomo Harmadi menilai banyak orang mudah menyalahkan data statistik karena kurang memahami prosesnya.
Menurut dia, statistik bukan sekadar angka hasil perhitungan sederhana seperti penjumlahan atau pembagian, melainkan melalui proses panjang.
Sonny menjelaskan penyusunan data statistik melibatkan sumber daya manusia yang memiliki latar belakang pendidikan khusus, salah satunya lulusan Politeknik Statistika STIS.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya sendiri melihat bagaimana teman-teman di STIS belajar matematika dan statistik dengan luar biasa. Jadi, data statistik yang dihasilkan tentu melalui suatu proses yang tidak mudah," kata Sonny di kantor BPS, Jakarta Pusat, Kamis (12/3).
Ia mengaku heran masih ada pihak yang dengan mudah menilai data statistik tidak berkualitas atau bahkan mengklaim mampu menghasilkan data yang lebih baik.
Menurut dia, anggapan tersebut harus dibenahi dengan pemberian literasi soal statistik.
"Orang dengan gampangnya me-judge (menghakimi) data statistik itu tidak berkualitas. 'Kita bisa membuat data yang lebih baik dan seterusnya.' Jadi, dipikir menghasilkan data statistik itu mudah. Nah, ini memang butuh literasi," ujar Sonny.
"Orang bisa dengan mudahnya menyalahkan data karena kekurangpahaman terhadap data," imbuhnya.
Sonny juga menegaskan bahwa kualitas data statistik Indonesia telah diakui di tingkat internasional. Ia mencontohkan Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti baru saja melakukan kunjungan ke Amerika Serikat (AS) untuk bertemu dengan United Nations Statistics Division (UNSD).
UNSD adalah unit kerja Persatuan Bangsa Bangsa (PBB) yang bertugas mengoordinasika kantor statistik nasional negara-negara di seluruh dunia, termasuk BPS.
Dalam kunjungan tersebut, kata Sonny, Pelaksana Tugas Direktur UNSD Shantanu Mukherjee menyampaikan apresiasi terhadap kualitas data statistik yang dihasilkan Indonesia.
Selain itu, Amalia juga ditetapkan sebagai Chair Governing Board International Comparison Program (ICP).
Situs resmi BPS RI menjelaskan bahwa ICP adalah program kolaborasi lebih dari 170 negara yang telah berlangsung lebih dari 60 tahun dan dikelola oleh World Bank.
Program tersebut bertujuan untuk menghasilkan suatu ukuran ekonomi standar untuk membandingkan ukuran ekonomi dan tingkat harga antarnegara seluruh dunia, salah satunya yang paling terkenal adalah Purchasing Power Parity/PPP (Paritas Daya Beli).
Sementara itu, Governing Board (GB) adalah badan tertinggi dalam program ini yang bertugas mengawasi, memberikan arahan strategis, dan pengambil keputusan utama dalam ICP.
"Jadi, peran Indonesia di dunia juga tidak main-main. Mereka melihat bagaimana kita menghasilkan data statistik dengan sungguh-sungguh," ucap Sonny.
Ia juga menyebut Amalia sempat menandatangani kerja sama dengan Kepala BPS Brasil di hadapan Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Brasil Luiz Inácio Lula da Silva.
Selain itu, Sonny turut bertemu dengan sejumlah pejabat statistik dari berbagai negara seperti Kementerian Statistik dan Implementasi Program (MoSPI) India serta Kepala BPS Kazakhstan.
Ia juga mempresentasikan sistem statistik Indonesia di hadapan para kepala lembaga statistik negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI).
Menurut Sonny, para kepala lembaga statistik negara anggota OKI mengapresiasi data statistik yang dihasilkan Indonesia.
"Jadi, BPS menghasilkan data dengan proses yang terstandar secara internasional dan tidak main-main," kata Sonny.
(inn/ins)
Add
as a preferred source on Google

3 hours ago
2















































