BTN Sambut Rencana Tambahan Dana SAL Rp100 Triliun

2 hours ago 1

Direktur Network and Retail Funding BTN Rully Setiawan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Rencana pemerintah menambah penempatan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) sekitar Rp100 triliun di perbankan disambut positif oleh PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. Kebijakan tersebut dinilai dapat membantu menjaga likuiditas bank sehingga penyaluran kredit kepada masyarakat tetap berjalan.

Direktur Network and Retail Funding BTN Rully Setiawan mengatakan, penempatan dana SAL menjadi langkah yang tepat untuk menjaga keseimbangan likuiditas perbankan, terutama ketika kebutuhan pembiayaan meningkat.

“Kami melihat penambahan dana SAL ini sebagai inisiatif yang baik dari pemerintah untuk menjaga likuiditas perbankan tetap terjaga,” kata Rully.

Sebelumnya, pemerintah telah menempatkan dana SAL sekitar Rp200 triliun di sejumlah bank milik negara untuk menjaga stabilitas likuiditas sistem keuangan. Penempatan dana tersebut juga diperpanjang hingga September 2026.

Rully menjelaskan, kebijakan tersebut membantu bank dalam menjaga ketersediaan dana untuk pembiayaan. Dengan likuiditas yang memadai, bank dapat menyalurkan kredit tanpa harus bersaing terlalu ketat menghimpun dana masyarakat.

BTN, misalnya, memperoleh alokasi sekitar Rp25 triliun dari penempatan dana SAL sebelumnya. Dana itu kemudian dimanfaatkan untuk mendukung penyaluran kredit ke berbagai sektor.

“Dana itu habis untuk penyaluran kredit kami. Bukan hanya KPR, tetapi juga pembiayaan UMKM dan sektor usaha lainnya,” ujarnya.

Menurut Rully, likuiditas perbankan sempat menghadapi tekanan pada awal 2025 ketika kebutuhan pembiayaan meningkat, sementara sebagian dana masyarakat mulai beralih ke berbagai instrumen investasi.

“Di awal tahun lalu memang sempat ada perebutan likuiditas antarbank. Namun kondisi itu sangat terbantu dengan adanya penempatan dana SAL,” kata dia.

Ia menilai tambahan penempatan dana SAL akan memberikan ruang lebih besar bagi perbankan untuk menyalurkan pembiayaan ke sektor produktif, termasuk usaha kecil dan menengah yang masih membutuhkan akses permodalan.

“Fundamental ekonomi Indonesia masih baik. UMKM juga bertumbuh dan tetap membutuhkan pembiayaan dari bank,” ujarnya. 

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |