ilustrasi(Magnific)
KASUS kanker mulut mencakup sekitar 3 persen dari total diagnosis kanker baru setiap tahunnya. Selain kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, dan infeksi Human Papillomavirus (HPV), para ahli kesehatan kini menyoroti faktor risiko lain yang sering kali terabaikan di meja makan yaitu konsumsi daging olahan secara berlebihan.
Daging olahan seperti sosis, bacon, ham, dan daging kornet telah dikategorikan oleh Badan Internasional untuk Penelitian Kanker (IARC) sebagai karsinogen Grup 1.
"Makanan yang memicu peradangan memiliki risiko tertinggi, dan di posisi teratas daftar tersebut adalah daging olahan seperti daging asap (bacon), daging olahan deli, hot dog, dan sosis." kata Kelly F. Moyer, M.D., seorang ahli otolaringologi di University of Maryland Medical Center.
Pakar Onkologi Mulut, Dr. Alessandro Villa, menjelaskan bahwa bahan pengawet kimia seperti nitrat dan nitrit pada daging olahan dapat membentuk senyawa N-nitroso di dalam tubuh yang memicu sifat karsinogenik.
Bahaya Daging Olahan bagi Mulut
Para ahli menguraikan empat bahaya utama pengolahan dan konsumsi daging olahan terhadap kesehatan sel rongga mulut:
- Kerusakan DNA Akibat Suhu Tinggi: Proses memasak daging olahan dengan suhu tinggi (seperti dibakar atau dipanggang hingga gosong) menghasilkan senyawa Polycyclic Aromatic Hydrocarbons (PAH) dan Heterocyclic Aromatic Amines (HAA) yang merusak DNA sel.
- Peradangan Kronis: Pola makan tinggi daging olahan dan kandungan zat besi heme di dalamnya memicu peradangan tingkat rendah secara terus-menerus di area mulut, merusak kemampuan alami tubuh untuk memperbaiki sel.
- Ketidakseimbangan Bakteri Mulut (Disbiosis): Pengawet dan zat kimia mengubah ekosistem mikrobioma alami mulut, menurunkan populasi bakteri baik yang seharusnya berfungsi melindungi rongga mulut.
- Kandungan Pengawet Kimia: Penggunaan nitrat dan nitrit jangka panjang terbukti secara klinis berkorelasi dengan munculnya tumor dan kanker.
Waspadai Gejala Awal Kanker Mulut
Masyarakat diimbau untuk tidak mengabaikan perubahan kecil pada area mulut. Dokter spesialis onkologi kepala dan leher menyarankan pemeriksaan medis jika mengalami tanda-tanda berikut:
- Sariawan atau luka mulut yang tidak kunjung sembuh lebih dari 2–3 minggu.
- Timbul bercak merah, putih, atau gelap yang tidak biasa pada lidah dan gusi.
- Benjolan atau pembengkakan persisten di bibir, gusi, atau bawah rahang.
- Rasa nyeri, kebas, atau gigi tanggal tanpa alasan yang jelas.
Langkah Pencegahan Alami menurut Pakar
Untuk menekan risiko kanker mulut, masyarakat disarankan mengurangi konsumsi daging olahan dan memperbanyak asupan 5–7 porsi buah serta sayuran kaya antioksidan setiap hari. Selain itu, menghentikan kebiasaan merokok, membatasi alkohol, menjaga kebersihan gigi, serta mendapatkan vaksinasi HPV menjadi pilar utama dalam menjaga kesehatan rongga mulut jangka panjang.
(Eatingwell/P-4)


















































