Ilustrasi(Dok Istimewa)
INOVASI pembinaan kemandirian warga binaan bertajuk "Gerobak Sayur" yang digagas Lapas Kelas III Kolonodale mendapat apresiasi dari Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Kanwil Ditjenpas) Sulawesi Tengah.
Program ini dinilai tak hanya membekali warga binaan dengan keterampilan bercocok tanam, tetapi juga mengasah jiwa kewirausahaan mereka.
Melalui lapak "Gerobak Sayur" yang digelar setiap masa panen, para warga binaan memasarkan langsung hasil tani mereka seperti kangkung, bayam, sawi, terong, cabai, dan kacang panjang kepada masyarakat setempat.
Komoditas organik yang dipanen dari lahan pembinaan Lapas ini dijual dengan harga sangat terjangkau, mulai dari Rp5.000 per ikat/paket.
Kepala Kanwil Ditjenpas Sulteng, Herman Mulawarman, menegaskan bahwa pembinaan di lembaga pemasyarakatan harus berorientasi pada hasil dan manfaat nyata.
Pembekalan tidak boleh berhenti pada proses produksi, melainkan harus mencakup rantai pemasaran agar warga binaan siap mandiri secara ekonomi setelah bebas.
"Pembinaan harus menghasilkan perubahan yang nyata. Melalui Gerobak Sayur, warga binaan belajar mengelola usaha, memahami pemasaran, dan membangun rasa percaya diri. Bekal inilah yang menjadi modal penting mereka saat kembali ke masyarakat," ujar Herman, Senin (3/8).
Ia menambahkan, inovasi ini selaras dengan arah kebijakan Ditjenpas dan 15 Program Aksi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan, khususnya dalam memperkuat pembinaan kemandirian serta mendukung program Ketahanan Pangan Nasional.
Herman pun mendorong seluruh Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pemasyarakatan di Sulteng untuk terus menciptakan program yang produktif, adaptif, dan bernilai ekonomi.
Sementara itu, Kepala Lapas Kelas III Kolonodale, Bambang Hari Widodo, menjelaskan bahwa program ini dirancang untuk memberikan pemahaman wirausaha secara menyeluruh (end-to-end).
"Warga binaan tidak hanya belajar mengolah lahan hingga menghasilkan produk berkualitas, tetapi juga diajarkan bagaimana memasarkannya. Kami berharap ini menjadi bekal konkret sekaligus bentuk kontribusi kami dalam mendukung ketahanan pangan," terang Bambang.
Inovasi ini pun menyedot antusiasme warga Kolonodale. Ibu Siti, salah seorang pembeli langganan, mengaku sangat terbantu dengan hadirnya lapak tersebut.
"Sayurannya segar-segar karena baru dipetik dari kebun, harganya pun ramah di kantong. Program ini membuktikan bahwa warga binaan bisa menghasilkan produk yang luar biasa dan bermanfaat untuk masyarakat," tutur Siti.
Melalui keberlanjutan program Gerobak Sayur, Kanwil Ditjenpas Sulteng berkomitmen untuk terus menghadirkan pola pembinaan yang adaptif, memberdayakan, serta berdampak langsung bagi masyarakat luas. (H-2)

















































