Jakarta, CNBC Indonesia — Pemerintah China mulai mengatur cara restoran menyajikan dimsum. Mulai 1 Mei, otoritas di Guangzhou mewajibkan pelaku usaha kuliner memberi tahu pelanggan apakah dimsum yang dijual dibuat secara manual atau diproduksi menggunakan mesin.
Aturan ini muncul di tengah kekhawatiran tradisi kuliner khas China selatan itu semakin tergerus industrialisasi. Banyak rumah makan kini beralih ke produksi massal demi menekan biaya, meski dianggap mengurangi kualitas dan nilai budaya dari dimsum itu sendiri.
Kebijakan tersebut mewajibkan restoran untuk secara transparan mengungkap metode produksi, apakah dibuat langsung di dapur (handmade) atau berasal dari produksi terpusat yang disebut sebagai "non-traditional means."
Pemerintah menyebut langkah ini sebagai upaya menjaga warisan budaya tak benda khas Guangzhou. Restoran yang memenuhi kriteria akan mendapatkan plakat khusus sebagai "toko tradisional". Bahkan, pelaku usaha juga didorong menampilkan proses pembuatan dimsum melalui siaran langsung agar pelanggan bisa melihat langsung prosesnya.
dimsum sendiri dikenal sebagai hidangan kecil khas China selatan, seperti har gow (pangsit udang), siu mai, hingga cheung fun. Proses pembuatannya menuntut keterampilan tinggi, mulai dari membungkus hingga mengukus dengan presisi agar tekstur dan rasa tetap terjaga.
Sejumlah pelanggan menyambut baik aturan ini. Mereka menilai transparansi penting, terutama karena beberapa restoran kerap mengklaim menyajikan makanan segar, padahal sebenarnya menggunakan produk jadi.
"Kadang restoran bilang fresh, tapi ternyata pre-made setelah kita makan. Itu mengecewakan," kata Amber Li, warga Guangzhou dikutip dari CNN International, Sabtu (2/5/2026).
Bagi sebagian orang, dimsum bukan sekadar makanan, tetapi bagian dari budaya sosial. Tradisi "yum cha" atau minum teh sambil menyantap dimsum menjadi cara masyarakat bersosialisasi, mirip seperti kebiasaan minum kopi di Barat.
Namun, di balik upaya pelestarian, tantangan ekonomi tetap besar. Pemilik restoran mengakui penggunaan mesin bisa memangkas biaya tenaga kerja secara signifikan. Seorang operator rumah makan di Guangzhou menyebut satu koki hanya mampu membuat sekitar 120 dumpling per jam, sementara mesin bisa memproduksi hingga 3.000 dalam waktu yang sama.
Meski begitu, tidak semua pelanggan menuntut dimsum handmade. Sebagian bersedia menerima produk pabrikan selama harganya lebih terjangkau.
(mkh/mkh)
Addsource on Google

3 hours ago
2

















































