REPUBLIKA.CO.ID, PROBOLINGGO -- Dengan senyum ceria, Az Zahra (14 tahun) siswi kelas 1 SMP di Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 7 Probolinggo menatap kamera-kamera jurnalis yang masuk ke ruang kelasnya. Ketika salah satu kamera menghampirinya dan mengajukan beberapa pertanyaan, ia memperkenalkan diri dengan nada ceria.
Tatkala anak-anak seusianya bercita-cita menjadi guru, tentara, polisi, dan dokter, Zahra justru berbeda. Ia ingin menjadi hakim yang adil agar bisa menegakan keadilan di negeri ini.
"Cita-cita saya ingin menjadi hakim karena saya ingin Indonesia ini adil, kan saya lihat seperti di berita-berita gitu ya, saya ingin dan termotivasi menjadi orang yang adil untuk semua masyarakat tanpa memandang siapapun," kata Zahra menjawab pertanyaan singkat Republika, Kamis (16/4/2026)
Siswi Sekolah Rakyat berusia 14 tahun ini mendambakan keadilan bagi seluruh masyarakat Indonesia tanpa memandang latar belakang apapun. Ia mengungkapkan kembali dengan tegas alasan ingin menjadi hakim karena suka dengan keadilan.
Di balik wajah cerianya, Zahra tidak seberuntung anak-anak lainnya dalam hal kesejahteraan keluarga. Ia berasal dari keluarga yang tidak mampu, karena hanya keluarga desil 1 dan desil 2 yang anak-anaknya boleh masuk Sekolah Rakyat.
Ia mengungkapkan bahwa ayahnya kerja serabutan, kadang mancing ikan di laut atau kerja kuli. Sementara ibunya kerja di tempat laundry pakaian.
Di Sekolah Rakyat, Zahra membuktikan dirinya bisa mengatasi segala keterbatasan. Belum lama ini, ia menjuarai Olimpiade Matematika jenjang SMP/MTs se-Probolinggo.
"Awalnya saya ditawari guru matematika untuk ikut lomba, terus saya minta diajarin (matematika) ke wali asuh, waktu lomba saya merasa saya sudah menang, ternyata kok bisa saya menang (lomba)," ujar Zahra dengan ceria dan malu-malu.
Ia juga menyampaikan senang bisa masuk Sekolah Rakyat, belajar pakai laptop, diberi perlengkapan sekolah, punya wali asuh yang selalu hadir saat dibutuhkan, dapat asrama, dan makan terjamin. Meski mendapatkan banyak fasilitas untuk belajar, di usianya yang masih 14 tahun, Zahra tetap merindukan kehadiran orang tua. Ia mengaku masih sering rindu akan kehadiran orang tua, karenanya setiap Sabtu ada jadwal untuk bertemu orang tuanya di lingkungan asrama Sekolah Rakyat.
Dengan latar belakang keluarga yang tidak jauh berbeda, Soraya (16) kelas 1 SMA di Sekolah Rakyat Terintegrasi 7 Probolinggo mengungkapkan cita-cita mulianya ingin menjadi dokter. Cita-citanya didorong oleh keinginannya untuk membantu masyarakat mendapatkan pelayanan kesehatan yang baik.
"Cita-cita ingin menjadi dokter, karena saya ingin membantu masyarakat yang di luar sana banyak yang membutuhkan, karena di luar sana (fasilitas, pelayanan dan kesadaran) kesehatan (masih) kurang," ujar Soraya dengan malu-malu.
Ia menegaskan bahwa ingin menjadi bagian dari orang-orang yang dapat membantu masyarakat, khususnya di bidang kesehatan.

1 hour ago
3

















































