Ilustrasi.(Magnific)
BANYAK prediksi awal mengenai kecerdasan buatan (AI) menggambarkan masa depan yang suram bagi para profesional kerah putih. Peringkat risiko sering kali menempatkan manajer, analis keuangan, hingga pengacara di daftar teratas profesi yang rentan digantikan oleh mesin.
Namun, data lapangan terbaru justru menunjukkan anomali yang mengejutkan. Profesi yang dianggap paling berisiko ini justru mengalami pertumbuhan, sementara peran administratif yang dianggap aman mulai menghilang.
Ekonom Gad Levanon baru-baru ini menguji teori kerentanan AI menggunakan data ketenagakerjaan pemerintah dari dua tahun terakhir. Temuannya, yang dipublikasikan pekan lalu, mematahkan narasi konvensional. Peran yang selama ini diberi label risiko tinggi--seperti manajemen, teknik, sains, dan hukum--terus berekspansi, bahkan dalam beberapa kasus mengalami percepatan pertumbuhan.
Anomali Data: Pertumbuhan vs Kontraksi
Sebaliknya, pekerjaan yang sebelumnya tidak dianggap sangat rentan, termasuk staf pencatatan (records clerks), pembukuan (bookkeepers), dan staf layanan pelanggan, justru mengalami kontraksi atau penyusutan yang cepat. Levanon melakukan analisis mendalam untuk memastikan apakah penurunan ini hanya efek samping dari industri yang sedang lesu.
Hasilnya tetap konsisten: pekerjaan klerikal atau administratif tidak menyusut karena sektor industrinya sedang kesulitan. Pekerjaan tersebut menyusut justru di dalam sektor-sektor saat peran manajerial sedang berkembang pesat. Hal ini menunjukkan ada pergeseran struktural dalam cara perusahaan mengalokasikan sumber daya manusia mereka di era AI.
| Manajemen, Hukum, Sains | Tumbuh/Ekspansi | Membutuhkan tanggung jawab, penilaian manusia, dan kepemimpinan. |
| Administrasi, Pembukuan, CS | Menyusut/Kontraksi | Proses berbasis aturan yang mudah diotomatisasi secara end-to-end. |
Tugas vs Tanggung Jawab
Mengapa prediksi awal meleset? Para ahli menunjuk pada perbedaan mendasar antara tugas dan tanggung jawab. Rudy DeFelice, Executive Vice President dan Global Head of AI Strategy di Harbor Global, menjelaskan bahwa AI saat ini memang mampu mengotomatisasi sebagian tugas profesional, tetapi tidak bisa mengambil alih tanggung jawab yang menyertainya.
"Ada perbedaan antara tugas yang dilakukan seorang profesional dan tanggung jawab yang datang dengan tugas-tugas tersebut," ujar DeFelice. Senada dengan hal itu, Sheldon Arora, CEO StaffDNA, menyatakan bahwa peran klerikal berdampak langsung karena melibatkan proses standar berbasis aturan yang relatif mudah diotomatisasi sepenuhnya. Namun, untuk peran manajerial, perusahaan tidak akan mengganti seluruh profesi hanya karena AI bisa menyelesaikan sebagian kecil pekerjaan mereka.
Insight Utama: AI tidak menggantikan profesi yang membutuhkan thought leadership, manajemen tim, dan pengalaman spesifik profesi seperti kedokteran atau hukum. Paparan AI tingkat menengah tidak berarti penggantian manusia secara total.
Masa Depan Keterampilan Manusia
Meskipun peran manajerial tumbuh, kecemasan tetap menghantui lapisan manajemen menengah. Jeff McMillan, CEO McMillanAI, mencatat bahwa gelombang teknologi baru membuat banyak pekerja mempertanyakan nilai masa depan mereka di dalam organisasi. Ketidakpastian ini diperkirakan akan terus berlanjut seiring AI merasuk lebih dalam ke operasional bisnis standar dalam tiga hingga lima tahun ke depan.
Namun, Kelly Heuer dari Project Management Institute memberikan pandangan optimistis. Menurutnya, manajer, analis, dan pengacara mengandalkan keterampilan yang tidak tergerus oleh otomatisasi, yaitu:
- Pemikiran kritis tingkat tinggi (Critical thinking).
- Manajemen pemangku kepentingan yang kuat (Stakeholders management).
- Penilaian manusia yang tajam (Human judgement).
Keterampilan-keterampilan inilah yang membantu para profesional menavigasi ketidakpastian dan mengubah prioritas strategis menjadi hasil yang berdampak nyata, sesuatu yang hingga saat ini belum bisa direplikasi oleh algoritma AI manapun. (Inc/I-2)


















































