Protes warga soal pemadaman listrik bergilir di Kalteng.(Istimewa)
ALIANSI Gerakan Palangka Raya Gelap (GPG) bersama Persatuan Insan Perunggasan (Insar) Kalimantan Tengah mendesak PT PLN (Persero) memberikan langkah konkret terkait pemadaman listrik bergilir di wilayah Kalimantan Tengah. Sebagai bentuk protes atas kerugian hingga ratusan juta rupiah, para peternak membuang bangkai ayam ke halaman Kantor PLN UP3 Palangka Raya di Jalan Ahmad Yani.
Koordinator Nasional Gerakan Santri Biru Kuning (GSBK) Febri Yohansyah menegaskan bahwa harus ada langkah konkret dari PLN dan tidak sekadar menyampaikan permohonan maaf yang dianggap tidak menyelesaikan dampak kerugian materiil yang dialami warga maupun pelaku usaha.
“Permintaan maaf saja tidak cukup. Seharusnya ada langkah konkret, termasuk menghitung dan mengganti kerugian yang dialami pelanggan akibat pemadaman listrik,” ujar Febri dalam keterangan resmi yang diterima, Selasa (4/8).
Febri menilai narasi permohonan maaf seolah menjadi pola berulang yang digunakan PLN setiap kali terjadi pemadaman listrik skala besar di berbagai daerah.
“Saat terjadi blackout di sejumlah wilayah Sumatra, beliau meminta maaf. Ketika blackout terjadi di Pulau Jawa, juga meminta maaf. Seolah-olah dengan permintaan maaf tersebut masalah PLN selesai,” tegasnya.
Aksi Aliansi GPG dan Insar Kalteng ini mendadak viral di media sosial TikTok usai diunggah oleh akun @akunCeritaOomBM pada Senin (3/8). Dalam unggahan tersebut, tumpukan bangkai ayam yang sudah membusuk sengaja dikirimkan ke halaman kantor PLN UP3 Palangka Raya.
“Harus pakai cara ekstrem begini supaya telinga dan empati manajemen PLN berfungsi. Kalau sudah dipancing pakai aroma busuk bangkai ayam, semoga bau busuk ribuan ayam di kantor kalian sukses menempel di ruang AC yang nyaman itu yang dibayar dari keringat rakyat yang kalian busukkan,” tulis akun tersebut dalam keterangan videonya.
Kerugian besar ini terjadi karena mayoritas peternakan ayam di wilayah tersebut menggunakan sistem kandang tertutup (closed house). Sistem ini sangat bergantung pada pasokan listrik secara terus-menerus untuk menggerakkan kipas ventilasi dan sirkulasi udara.
Ketika aliran listrik terputus, suhu di dalam kandang melonjak secara drastis sehingga menyebabkan puluhan ribu ayam lemas dan mati mendadak. Meskipun peternak memiliki genset cadangan, biaya operasional BBM dinilai terlalu tinggi untuk menutupi durasi pemadaman yang panjang. Satu kandang berkapasitas 40 ribu ekor dilaporkan memicu kerugian hingga Rp360 juta.
Menanggapi gejolak tersebut, General Manager PLN UID Kalselteng Iwan Soelistijono menjelaskan bahwa gangguan sistem kelistrikan bermula dari kerusakan generator di PLTU Asam-Asam. Selain itu, dua unit pembangkit milik Independent Power Producer (IPP) juga mengalami kebocoran pada pipa boiler dan turbin sehingga pasokan daya merosot tajam.
Kondisi tersebut memaksa PLN menerapkan skema pemadaman bergilir dan pengalihan beban secara terbatas di wilayah Kalimantan Selatan serta Kalimantan Tengah demi menjaga keandalan sistem selama proses pemulihan.
"PLN menyatakan seluruh personel telah diterjunkan untuk mempercepat perbaikan pembangkit yang mengalami gangguan. Perusahaan juga meminta masyarakat menghemat penggunaan listrik, terutama pada pukul 18.00 hingga 21.00 WIB, serta menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang ditimbulkan selama pemadaman bergilir berlangsung," terang Iwan. (P-4)

















































