Dampak Perang AS-Iran: Ketimpangan Ekonomi di Angola kian Menyala

7 hours ago 1
 Ketimpangan Ekonomi di Angola kian Menyala Rakyat Angola.(The Washington Post)

DI Pasar Catinton yang padat dalam ibu kota Angola, para pedagang menjajakan buah dan sayuran di bawah payung yang nyaris tak mampu menghalau teriknya matahari. Kesibukan di pagi hari itu tampak jauh dari hiruk-pikuk perang antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran, tetapi dampaknya terasa nyata hingga ke meja makan warga setempat.

Angola, negara dengan 40 juta penduduk, merupakan salah satu negara dengan tingkat ketimpangan tertinggi di dunia. Berdasarkan data, separuh populasinya hidup dengan kurang dari Rp56.000 ($3,65) per hari. Sementara itu, pendapatan minyak yang melimpah justru lebih banyak memperkaya elite penguasa yang memiliki koneksi kuat.

Berkah Minyak bagi Elite, Beban bagi Rakyat

Konflik di Iran memperlebar jurang pemisah tersebut. Sebagai salah satu produsen minyak yang tidak mengirimkan pasokannya melalui Selat Hormuz, Angola menjadi alternatif utama bagi pasar global. Ketergantungan dunia pada minyak Angola menjadi keuntungan besar bagi pemerintah. Namun di sisi lain, lonjakan harga pangan, bahan bakar, dan pupuk justru memukul warga miskin.

Di Pasar Catinton, Veronica Simon, 35, dan Isabelle Ferreira, 31, berjuang keras hanya untuk membayar biaya sekolah anak-anak mereka. Sejak Februari, harga grosir satu kotak cabai merah yang mereka jual melonjak empat kali lipat. Keduanya bahkan tidak mengetahui ada perang di Iran. Yang mereka tahu hanyalah pendapatan harian mereka kini jarang mencapai Rp38.000 ($2,50).

"Ini tidak cukup, tetapi apa yang bisa kami lakukan? Kami tidak punya pilihan lain," ujar Simon dengan nada pasrah.

Ketidakpastian Ekonomi Global

Ekonom Arsénio Bumba menyatakan bahwa perang ini ialah guncangan ekonomi terbaru yang meningkatkan ketidakpastian global dan mendorong biaya impor. "Rumah tangga termiskin adalah yang paling terdampak di hampir setiap negara," jelasnya.

Bagi pemerintah Angola, kenaikan harga minyak berarti aliran kas yang masif. Minyak menyumbang sekitar 30 persen dari PDB Angola, 65 persen pendapatan pemerintah, dan lebih dari 95 persen ekspor fisik menurut data Bank Dunia. Pemerintah merencanakan anggaran 2026 dengan asumsi harga minyak Rp935.000 ($61) per barel, tetapi saat ini harga minyak mentah Brent mencapai sekitar Rp1,3 juta (US$87) per barel.

Data Ekonomi Angola:

  • PDB dari Minyak: ~30%
  • Pendapatan Negara dari Minyak: 65%
  • Ekspor Fisik: >95%
  • Asumsi Anggaran 2026: $61/barel (Realisasi saat ini: ~$87/barel)

Frustrasi di Tengah Tumpukan Sampah

Meskipun pemerintah mengeklaim telah menggunakan keuntungan tak terduga (windfall) untuk membayar utang dan menciptakan stok pangan serta obat-obatan, warga di permukiman kumuh seperti Bairro da Lixeira merasa ditinggalkan. Di wilayah yang dikelilingi tumpukan sampah ini, listrik sering padam dan air bersih tidak tersedia.

Joveth Hebo, 33, seorang warga setempat yang terpaksa putus kuliah hukum karena tekanan finansial, meragukan dana tersebut akan sampai ke rakyat kecil. "Meskipun mereka punya lebih banyak uang, harga-harga tetap naik. Semua orang Afrika menderita," katanya.

Dengan pemilihan presiden yang dijadwalkan tahun depan, tekanan terhadap pemerintah untuk mengatasi kemiskinan semakin tinggi. Sejak kemerdekaan, Angola terus diperintah oleh satu partai politik, Gerakan Rakyat untuk Pembebasan Angola (MPLA), di tengah rasa frustrasi warga terhadap korupsi elite politik yang kerap memicu protes keras.

"Itu (pendapatan minyak) tidak akan membantu kami. Itu akan membantu mereka," pungkas Hebo sambil mencari besi tua di tumpukan sampah untuk dijual. "Mayoritas dari kami menderita, dan mereka tidak peduli." (The Washington Post/I-2)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |