Seorang pria mengangkat plakat bertuliskan Islamofobia membunuh, keadilan untuk Aboubakar saat mengikuti unjuk rasa menentang Islamofobia menyusul penusukan mematikan seorang pria di sebuah masjid di wilayah selatan negara itu, di Paris, Prancis, 27 April 2025. Aboubakar Cisse, seorang pemuda Afrika, ditikam hingga tewas pada 25 April di sebuah masjid di desa La Grand-Combe di wilayah Gard di Prancis selatan.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dewan Hubungan Amerika-Islam (CAIR), organisasi advokasi dan hak sipil Muslim terbesar di Amerika Serikat, mengirimkan dua surat terpisah kepada seluruh kantor anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan Senat AS. Surat tersebut menanggapi meningkatnya retorika anti-Muslim dari sejumlah pejabat terpilih, terutama dari kalangan Partai Republik.
Dalam pernyataannya, Direktur Departemen Urusan Pemerintahan CAIR, Robert S. McCaw, menekankan pentingnya komitmen terhadap Konstitusi AS. “Kami berterima kasih kepada banyak anggota Kongres dari Partai Demokrat yang telah bersuara menentang kebencian anti-Muslim dan membela hak-hak Amendemen Pertama umat Muslim Amerika.
Para pemimpin Partai Republik sekarang harus menunjukkan komitmen yang sama dengan secara tegas mengecam fanatisme anti-Muslim, bahkan jika berasal dari anggota kelompok mereka sendiri,” ujar McCaw, sebagaimana tertulis dalam pernyataan resmi CAIR di halaman website resminya.
CAIR mengirim surat terima kasih kepada kantor-kantor kongres Partai Demokrat pada Jumat lalu, menghargai anggota yang secara terbuka menentang fanatisme anti-Muslim serta membela kesetaraan kewarganegaraan bagi Muslim Amerika.
Surat kedua ditujukan kepada kantor-kantor Partai Republik, mendesak para pemimpin dan anggota partai untuk menegaskan kembali komitmen terhadap kebebasan beragama serta menolak ujaran kebencian anti-Muslim dan teori konspirasi yang dipromosikan sebagian anggota Kongres dari partai tersebut.
Surat-surat itu didistribusikan kepada Kepala Staf, Direktur Legislatif, dan Direktur Komunikasi di setiap kantor DPR dan Senat.
Peningkatan retorika ini muncul dalam beberapa pekan terakhir. Anggota Kongres Andy Ogles (R-TN) menyatakan bahwa “umat Muslim tidak pantas berada di masyarakat Amerika” dan “pluralisme adalah kebohongan”.
Hal itu kemudian direspons Ketua Minoritas DPR Hakeem Jeffries mengecam komentar Ogles sebagai “badut jahat” dan “pembohong patologis,” sebagaimana diberitakan Jerussalem Post.
Anggota Kongres Randy Fine (R-FL) menyerukan penghancuran “umat Muslim arus utama”.
Senator Tommy Tuberville (R-AL) memperkuat retorika tersebut dengan membagikan unggahan yang menggambarkan walikota Muslim pertama Kota New York sebagai “musuh” internal, dipasangkan dengan gambar serangan 11 September dan foto walikota mengadakan buka puasa Ramadan di Balai Kota.

1 hour ago
3
















































