Derita Petani di Pasirhalang, Harus Beli Air Mahal tapi Harga Panen Anjlok

11 hours ago 1
Derita Petani di Pasirhalang, Harus Beli Air Mahal tapi Harga Panen Anjlok Foto petani di Desa Pasirhalang Cisarua, Bandung Barat.(MI/Depi Gunawan)

PENDERTIAAN dialami petani di Kampung Cikarang Mulya, Desa Pasirhalang, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, imbas kemarau panjang. 

Di tengah biaya produksi yang melonjak akibat krisis air, harga jual hasil panen justru anjlok. Selada yang sebelumnya masih dijual Rp5 ribu hingga Rp6 per kilogram, kini hanya dihargai sekitar Rp2 ribu per kilogram.

"Harga-harga sayuran dari tingkat petani turun sejak kemarau melanda," kata seorang petani Kampung Cikarang Mulya, Desa Pasirhalang, Dadang, Rabu (5/8).

Dadang mengatakan, kondisi serupa terjadi pada tomat dan buncis, sementara brokoli masih sedikit lebih baik. Ironisnya, harga murah itu hanya terjadi di tingkat petani, sebab di pasar tradisional, harga sayuran masih relatif tinggi.

Di saat pendapatan merosot, cobaan lebih berat harus dihadapi Dadang karena ia terpaksa harus membeli air dari Perusahaan Air Minum (PAM) untuk penyiraman tanamannya.

"Air harus dibeli, harga satu kubik mencapai Rp7 Ribu. Dalam kondisi cuaca saat ini, sedikitnya lima kubik dibutuhkan setiap kali pengairan, sementara penyiraman idealnya dua kali sehari agar tanaman tidak mati," bebernya.

Untuk mengatasi hal tersebut, ia terpaksa mengurangi penyiraman menjadi satu kali sehari meski harus menanggung resiko kualitas tanaman menurun dan hasil panen tidak maksimal.

Jajang, petani lainnya mengungkapkan, musim kemarau kali ini berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya. Jika dulu harga sayuran melonjak saat produksi berkurang, kini harga malah terjun bebas.

"Selada dulu pernah mencapai Rp20 ribu per kilogram kini hanya laku Rp2 ribu. Tomat dari sebelumnya sekitar Rp10 ribu menjadi hanya Rp2 ribu per kilogram di tingkat petani," ucapnya.

Padahal, lanjut dia, biaya menanam tomat tergolong tinggi. Selain kebutuhan pupuk dan perawatan, petani kini harus mengeluarkan biaya tambahan untuk membeli air.

"Satu kubik air sekarang Rp10 ribu, sementara sehari bisa habis lima kubik. Jadi sekali keluar uang Rp50 ribu hanya untuk air," kata Jajang.

Menurut dia, panas berkepanjangan membuat banyak buah tomat mengalami kerusakan sebelum dipanen. Hampir separuh hasil dari setiap pohon tomat harus dibuang karena membusuk sebagian dan tidak layak dijual.

"Ya akibatnya, kerugian yang dialami petani tidak hanya berasal dari harga jual yang rendah, tetapi juga dari menyusutnya volume panen," tambahnya. (DG/E-4)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |