Asap mengepul dari Kilang Minyak Shahran setelah serangan udara di Teheran, Iran, 8 Maret 2026.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Perang antara Amerika Serikat dan Iran yang terus meningkat berpotensi mengguncang perekonomian global, memicu lonjakan inflasi, serta memperlambat pertumbuhan ekonomi dunia. Para ekonom memperingatkan konflik di kawasan Timur Tengah itu juga dapat mendorong kenaikan harga energi dan mengganggu rantai logistik global.
Laporan berbagai lembaga keuangan internasional menunjukkan dampak ekonomi konflik tersebut sudah mulai terlihat. Bank investasi JPMorgan memperkirakan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) global dapat melambat dari 2,6 persen menjadi sekitar 2 persen jika konflik berkepanjangan. Pada saat yang sama, inflasi global diperkirakan meningkat dari 3 persen menjadi 4 persen.
Lonjakan tersebut terutama dipicu oleh kenaikan harga minyak dunia. Ketegangan di kawasan Teluk memicu gangguan pasokan energi, terutama karena jalur pengiriman minyak di Selat Hormuz terancam terganggu. Selat ini dilalui sekitar seperempat pasokan minyak global sehingga setiap gangguan langsung memengaruhi harga energi dunia, sebagaimana diberitakan Bloomberg dan Ria Novosti.
Analis dari Goldman Sachs menilai situasi tersebut dapat berlangsung cukup lama. Lembaga itu bahkan menaikkan proyeksi harga minyak mentah Brent untuk kuartal IV 2026 dari 66 dolar AS menjadi 71 dolar AS per barel. Dalam beberapa pekan terakhir, harga minyak Brent telah melonjak lebih dari 30 persen dan mendekati 100 dolar AS per barel.
Lonjakan harga energi segera berdampak pada pasar keuangan global. Laporan Bloomberg mencatat pasar saham dunia telah kehilangan sebagian keuntungan yang diperoleh sejak awal tahun akibat meningkatnya ketidakpastian geopolitik.
Untuk meredam gejolak pasar energi, International Energy Agency (IEA) memutuskan melepas cadangan minyak strategisnya. Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol mengatakan sekitar 400 juta barel minyak mentah akan dilepas ke pasar guna menjaga stabilitas pasokan energi global.
Namun para analis menilai langkah tersebut hanya mampu meredakan tekanan dalam jangka pendek. Penasihat investasi Bank Sentral Rusia, Sergey Varfolomeev, menilai pelepasan cadangan minyak hanya cukup menutup kekurangan pasokan sekitar 20 hari dari kawasan Teluk Persia.
Menurutnya, konflik telah menciptakan guncangan energi besar di pasar global. Produksi minyak di negara-negara Teluk Persia diperkirakan turun hingga 10 juta barel per hari. Pada saat yang sama, tarif pengiriman tanker meningkat lebih dari dua kali lipat, sementara premi asuransi pengiriman dalam beberapa kasus melonjak hingga 1.000 persen.
“Ini menciptakan guncangan energi yang nyata, sebanding dengan dampak pandemi, tetapi dengan karakter yang berbeda karena berasal dari penurunan pasokan,” kata Varfolomeev.

2 hours ago
2
















































