Ilustrasi rantai pasok.(Dok.magnific.com)
DIVERSIFIKASI rantai pasok, akses pasar, dan posisi geopolitik yang relatif netral dinilai menjadi faktor penting untuk menjaga daya tarik investasi Indonesia dalam jangka panjang. Langkah tersebut diperlukan di tengah ketidakpastian perdagangan global akibat ketegangan geopolitik, gangguan rantai pasok, isu energi, dan perubahan kebijakan tarif.
Indonesia mencatat realisasi investasi Rp1.010,6 triliun pada semester I 2026, meningkat 7,2% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Dari total tersebut, investasi asing langsung atau Foreign Direct Investment (FDI) mencapai Rp507,6 triliun atau sekitar 50,2%.
Kebutuhan investasi diperkirakan terus meningkat. Pemerintah menargetkan realisasi investasi Rp2.322 triliun pada 2027, naik 13,8% dari target 2026 sebesar Rp2.041,3 triliun.
Vice President Asia Pacific World Trade Centers Association (WTCA) Scott Wang mengatakan perubahan arus perdagangan global meningkatkan risiko bagi negara dan perusahaan yang terlalu bergantung pada satu sumber pasokan atau pasar.
“Di tengah ketidakpastian, strategi terbaik adalah diversifikasi, baik dalam rantai pasok, sumber energi, maupun akses pasar. Dengan demikian, ketika satu pasar menghadapi hambatan akibat perubahan tarif, pelaku usaha tetap dapat mengakses pasar lainnya,” ujar Wang.
Menurut dia, jaringan global dan konektivitas lokal WTCA dapat membantu perusahaan memperluas serta mendiversifikasi jangkauan bisnis. Indonesia dinilai memiliki peluang memanfaatkan perubahan rantai pasok global karena posisi geopolitiknya relatif netral.
Posisi tersebut memberikan ruang bagi Indonesia untuk menjaga hubungan dengan berbagai pasar dan tidak terlalu bergantung pada satu blok perdagangan. Kondisi itu juga membuka peluang ketika perusahaan mencari alternatif lokasi produksi dan perdagangan.
Selain posisi geopolitik, Indonesia memiliki pasar domestik yang besar. Dengan populasi sekitar 280 juta jiwa dan angkatan kerja sekitar 160 juta orang, Indonesia memiliki potensi sebagai basis produksi sekaligus pasar bagi perusahaan asing.
“Ketika perusahaan multinasional memilih lokasi untuk basis produksi atau manufaktur, mereka tidak hanya mempertimbangkan biaya upah pekerja dan potensi ekspornya saja, tetapi juga kekuatan dari pasar domestiknya. Dalam hal ini, Indonesia memiliki posisi yang unik di kawasan ini,” kata Wang.
Namun, Wang mengingatkan keunggulan pasar domestik dan posisi geopolitik belum cukup untuk menjamin masuknya investasi. Indonesia masih perlu memperkuat iklim investasi, transparansi kebijakan, kemudahan berusaha, dan pembangunan infrastruktur.
Sejalan dengan itu, Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM menetapkan tiga prioritas untuk mendorong realisasi investasi, yakni kepastian perizinan, percepatan pembangunan proyek, serta penyelesaian hambatan investasi di lapangan.
Perluas Koneksi Bisnis
Upaya memperkuat konektivitas Indonesia dengan pasar internasional akan menjadi salah satu fokus WTCA Asia Pacific Conference 2026 yang untuk pertama kalinya digelar di Jakarta pada 18-20 November 2026.
Konferensi yang diselenggarakan World Trade Center (WTC) Jakarta tersebut mengusung tema “Jakarta: Tempat Asia Pasifik Terhubung dan Tumbuh Bersama”. Forum itu akan mempertemukan pelaku usaha Indonesia dengan jaringan bisnis WTCA yang mencakup lebih dari 300 kota di hampir 100 negara dan wilayah.
Director WTC Jakarta (PT Jakarta Land) William Chai mengatakan penjajakan kemitraan bisnis atau business-to-business (B2B) matchmaking menjadi salah satu agenda utama konferensi.
“Kami ingin pelaku usaha Indonesia dapat berinteraksi langsung dengan calon mitra dari berbagai pasar, sekaligus memberikan delegasi internasional akses yang lebih dekat dengan perusahaan dan peluang investasi di Indonesia. Di sinilah kami melihat nilai nyata dari konferensi ini,” ujar William.
Salah satu sesi konferensi akan membahas Indonesia sebagai gerbang menuju ASEAN, termasuk peluang perdagangan, investasi, dan kemitraan. Forum tersebut juga menghadirkan diskusi panel, paparan ahli perdagangan regional, serta pertemuan antara delegasi internasional dengan perusahaan, asosiasi industri, dan lembaga investasi Indonesia. (E-2)


















































