Dokter Sebut Tumor Otak tak Selalu Berakhir Buruk, Fokus pada Kualitas Hidup Pasien

2 weeks ago 5
Dokter Sebut Tumor Otak tak Selalu Berakhir Buruk, Fokus pada Kualitas Hidup Pasien DOKTER Spesialis Bedah Saraf MRCCC Siloam Semanggi, Made Agus Mahendra Inggas.(Dok. Antara)

DOKTER Spesialis Bedah Saraf MRCCC Siloam Semanggi, Made Agus Mahendra Inggas, menegaskan bahwa diagnosis tumor otak tidak selalu berujung pada hasil yang buruk. Ia menekankan bahwa kualitas hidup (quality of life) pasien menjadi salah satu target utama dalam penanganan medis, terutama ketika penyakit tersebut tidak dapat disembuhkan secara total.

“Tumor otak itu bisa sembuh. Namun, kalau memang tidak bisa disembuhkan (total), minimal kita membuat target agar quality of life pasien ini jadi lebih baik,” ujar Made dalam acara MRCCC Siloam Semanggi Media Hospital Tour 2026 di Jakarta, Selasa (1/9).

Made menjelaskan bahwa pasien dan keluarga harus memandang diagnosis tumor otak sebagai sebuah "perjalanan baru" dengan tujuan penanganan yang terukur. Meskipun kesembuhan tetap menjadi target utama, peningkatan kualitas hidup menjadi fokus krusial saat kondisi klinis pasien tidak memungkinkan untuk mencapai kesembuhan menyeluruh.

Ia juga mematahkan stigma bahwa munculnya tumor otak atau penyebaran kanker ke area otak pasti memberikan hasil pengobatan yang buruk. Menurutnya, prognosis pasien sangat bergantung pada berbagai faktor, termasuk kecepatan penanganan.

“Tidak serta-merta bahwa munculnya tumor otak atau penyebaran tumor ke otak itu pasti hasilnya jelek. Tidak,” tegasnya.

Pentingnya Deteksi Dini

Lebih lanjut, dokter lulusan Spesialis Bedah Saraf Universitas Airlangga ini memaparkan bahwa keberhasilan pengobatan sangat dipengaruhi oleh seberapa dini tumor tersebut ditemukan. Semakin kecil ukuran tumor saat terdeteksi, maka peluang hasil atau outcome pengobatan akan jauh lebih optimal.

“Prinsipnya adalah di mana pun tumornya, semakin kecil kita temukan, semakin dini deteksi kita lakukan, maka hasil atau outcome-nya akan semakin baik,” jelas Made.

Ia juga menekankan bahwa penanganan tumor otak merupakan kerja tim yang melibatkan kolaborasi erat antara pasien, keluarga, dan tim medis rumah sakit. Pasien dan keluarga diharapkan aktif mencari informasi dan terlibat dalam menentukan langkah penanganan yang paling sesuai dengan kondisi masing-masing.

“Ini bukan akhir dari segalanya, tapi suatu perjalanan baru yang harus dilakukan bersama-sama dari sisi pasien, keluarga, dan pihak rumah sakit,” pungkasnya. (Ant/H-3)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |