Donald Trump Terjebak Konflik Iran tanpa Strategi Keluar yang Jelas

4 hours ago 1
Donald Trump Terjebak Konflik Iran tanpa Strategi Keluar yang Jelas Donald Trump.(Al Jazeera)

PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump baru saja meraih terobosan diplomatik di Timur Tengah melalui kesepakatan pelucutan senjata militan Hamas. Namun, pencapaian tersebut dibayangi oleh konflik berkepanjangan dengan Iran yang membuat Trump terjebak dalam pencarian strategi keluar (exit strategy) yang hingga kini belum membuahkan hasil.

Setelah lima bulan berperang, ruang gerak Trump tampak sangat terbatas. Muncul kesan bahwa sang presiden semakin sering membuat rencana secara mendadak seiring berjalannya konflik.

"Kami akan membalas mereka dengan sangat keras karena sekarang giliran kami untuk memukul," ujar Trump pada Rabu (30/7). Ia merujuk pada rencana serangan balasan terhadap Teheran atas serangan terhadap pangkalan militer AS di Yordania.

Kebuntuan di Camp David

Upaya pemimpin Partai Republik tersebut untuk memaksa Iran menyerah melalui serangan udara sejauh ini belum berhasil. Ketika konflik meluas dari Irak ke Arab Saudi bahkan hingga Mesir, Trump kini berada di titik buntu. Pada Jumat (31/7), ia mengumpulkan anggota kabinetnya di tempat peristirahatan kepresidenan Camp David, tetapi tidak ada indikasi adanya perubahan strategi yang signifikan.

Laporan dari NBC News, mengutip pejabat AS yang tidak disebutkan namanya, menyebutkan bahwa Trump sempat meluapkan kemarahan dalam pertemuan di Gedung Putih baru-baru ini. Ia dikabarkan merasa sangat frustrasi karena terbatasnya pilihan yang tersedia untuk mengakhiri perang ini.

Situasi saat ini sangat bergantung pada sikap Teheran. Pasca serangan gabungan AS dan Israel pada 28 Februari yang menewaskan sejumlah pejabat tinggi termasuk pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei, perkembangan di lapangan ternyata tidak berjalan sesuai rencana awal Washington.

Tanpa Solusi Cepat

Di awal konflik, Trump sempat memprediksi lini masa serangan selama empat hingga enam minggu untuk mencegah Teheran memperoleh senjata nuklir. Meski pejabat AS mengeklaim telah mencapai tujuan militer utama--seperti menghancurkan angkatan laut Iran dan mendegradasi kemampuan rudal balistik mereka--fokus konflik kini bergeser ke kendali Selat Hormuz.

Teheran telah mengganggu lalu lintas maritim utama dengan serangan terhadap kapal-kapal pengangkut, langkah yang tampaknya mengejutkan Washington. Kesepakatan gencatan senjata pada 17 Juni pun telah runtuh. Militer AS terus melancarkan serangan ke target militer Iran, sementara Garda Revolusi Iran membalas dengan menyerang pangkalan AS dan sekutunya di kawasan tersebut.

"Sulit untuk melihat mengapa pendekatan ini akan berhasil sekarang, padahal tidak membuahkan hasil selama lima bulan terakhir," tulis Richard Haass, mantan presiden Council on Foreign Relations.

Karen Young, peneliti senior di Middle East Institute, memperingatkan bahwa konflik ini masih dalam tahap awal dan masyarakat harus bersiap untuk gangguan yang berkepanjangan. "Ini konflik yang tidak memiliki solusi cepat, bahkan transisi rezim sekalipun bisa menyebabkan ketidakstabilan yang lebih besar di kawasan," jelasnya.

Tekanan Politik Domestik

Di dalam negeri, perang ini semakin tidak populer. Lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) memicu kemarahan konsumen Amerika. Berdasarkan rata-rata jajak pendapat yang disusun oleh pakar politik Nate Silver hingga Kamis (31/7), sebanyak 58,3 persen warga Amerika menentang perang tersebut, sementara hanya 37,4 persen yang mendukung.

Isu ini menjadi sangat sensitif secara politik mengingat pemilihan paruh waktu (midterm elections) akan digelar dalam tiga bulan ke depan. Sejarah menunjukkan pemilu ini biasanya sulit bagi partai yang menguasai Gedung Putih. Jika tren ini berlanjut, Trump berisiko kehilangan mayoritas kursi Partai Republik di DPR dan Senat.

Alex Vatanka dari Middle East Institute merangkum situasi ini sebagai persamaan kalah-kalah (lose-lose equation) karena tidak ada satu pihak pun yang diuntungkan dari eskalasi yang terus berlanjut. (AFP/I-2)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |