Dorong Pengembangan SDM di Era AI

21 hours ago 1
Dorong Pengembangan SDM di Era AI Menteri Senior di Kementerian Pengembangan Digital dan Informasi Singapura, Tan Kiat How, memberi pemaparan tentang AI pada acara SAP Now AI Tour Southeast Asia 2026 di Marina Bay Sands Expo & Convention di Singapura, Selasa (4/8).(MI/BUDI ERNANTO)

MENTERI Senior di Kementerian Pengembangan Digital dan Informasi Singapura, Tan Kiat How, menilai perkembangan kecerdasan buatan (AI) tidak mengurangi peran dari manusia.

Sebaliknya, kemajuan teknologi membuat penguasaan dasar-dasar teknologi menjadi semakin penting agar masyarakat mampu beradaptasi dengan perubahan dunia kerja.

Dalam pidatonya pada acara SAP Now AI Tour Southeast Asia 2026 di Marina Bay Sands Expo & Convention di Singapura, Selasa (4/8), Tan mengatakan perdebatan saat ini seharusnya tidak lagi berfokus pada kemampuan AI, melainkan dampak yang ditimbulkannya terhadap dunia kerja dan kebutuhan keterampilan baru.

"Yang lebih penting bukanlah apa yang dapat dilakukan AI, melainkan apa yang diubah AI," kata Tan.

Menurut dia, setiap revolusi teknologi selalu mengubah cara bekerja, termasuk keterampilan yang paling dibutuhkan. AI memang mampu mempercepat pengembangan perangkat lunak, analisis data, hingga pembuatan konten, tetapi hal itu tidak membuat keahlian teknis menjadi kurang penting.

"Keunggulan teknis justru menjadi semakin penting. Ilmu komputer, rekayasa perangkat lunak, pemikiran sistem, keamanan siber, dan arsitektur tetap menjadi fondasi profesi teknologi," ujarnya.

Tan menjelaskan kemampuan AI harus diimbangi dengan pemahaman yang kuat agar manusia dapat mengetahui cara kerja teknologi tersebut, mengenali keterbatasannya, menguji asumsi yang dihasilkan, serta menentukan kapan penilaian manusia tetap diperlukan.

Ia menambahkan pembeda utama di era AI bukan hanya kemampuan teknis, tetapi juga kemampuan mengidentifikasi persoalan, memahami kebutuhan pelanggan, bekerja lintas disiplin, serta menggabungkan teknologi dengan pemahaman bisnis.

"Teknologi menentukan apa yang mungkin dilakukan, tetapi manusialah yang menentukan apa yang benar-benar bernilai," katanya.

Tan juga menilai kebutuhan tenaga teknologi masih terus meningkat di berbagai sektor. Di Singapura, sekitar dua pertiga pekerjaan bidang teknologi kini berada di luar industri teknologi informasi dan komunikasi (ICT), seperti layanan kesehatan, manufaktur, jasa keuangan, hingga sektor publik.

"Teknologi bukan lagi sekadar sebuah industri, tetapi telah menjadi kemampuan yang dibutuhkan setiap industri," ujarnya.

Menurut Tan, transformasi AI tidak cukup hanya dilakukan dengan mengadopsi teknologi baru. Organisasi juga harus memastikan para pekerja memiliki kemampuan memanfaatkan AI untuk menyelesaikan persoalan nyata.

"Organisasi tidak akan berhasil hanya karena menerapkan AI. Mereka berhasil karena mampu mengembangkan sumber daya manusia yang tahu cara memanfaatkan AI untuk menyelesaikan masalah yang benar-benar penting," kata Tan.

Karena itu, Singapura memperkuat kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, dan perusahaan teknologi melalui berbagai program pengembangan keterampilan agar tenaga kerja tetap relevan di tengah perubahan yang dipicu AI.

"Pada akhirnya, AI tidak akan menentukan masa depan kita. Pilihan yang kita ambil dalam memanfaatkan AI-lah yang akan menentukannya," tutup Tan. (I-3)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |