DPRD DKI Usul Tarif Ragunan Naik Jadi Rp10 Ribu

2 weeks ago 25
DPRD DKI Usul Tarif Ragunan Naik Jadi Rp10 Ribu Taman Margasatwa Ragunan Jakarta(MI/Susanto)

KOMISI C DPRD DKI Jakarta mengusulkan penyesuaian tarif masuk Taman Margasatwa Ragunan (TMR) menjadi Rp10 ribu. Ketua Komisi C DPRD DKI Jakarta Dimaz Raditya mengatakan tarif masuk Ragunan saat ini Rp4 ribu untuk dewasa dan Rp3 ribu untuk anak-anak, tidak pernah berubah selama sekitar 20 tahun.

Tarif Ragunan ini sudah 20 tahun tidak pernah naik. Sementara kondisi ekonomi dan pendapatan masyarakat Jakarta terus meningkat,” kata Dimaz melalui keterangannya, Jumat (4/9).

Menurut Dimaz, tarif Rp10 ribu masih rasional dan terjangkau jika dibandingkan dengan sejumlah destinasi wisata lain di Jakarta.

“Tarif sekarang paling mahal Rp4.000. Rencana akan dinaikkan menjadi Rp10.000, tetapi masih terus kami kaji perihal angka,” ujarnya.

Sementara, Anggota Komisi C DPRD DKI Jakarta Hardiyanto Kenneth menilai penyesuaian tarif harus dibarengi dengan peningkatan kualitas pengelolaan Ragunan.

Hal itu menyusul insiden seorang anak terjatuh ke area kandang gajah pada Mei lalu. Menurut Kenneth, kejadian tersebut harus menjadi evaluasi untuk memperketat standar keamanan di kawasan satwa.

“Ini menjadi salah satu catatan kami dan kami berharap standar keamanan bisa ditingkatkan seiring penyesuaian tarif,” kata Kenneth.

Ia mengatakan kenaikan tarif juga harus diarahkan untuk mengurangi beban APBD. Saat ini, sekitar 70% kebutuhan operasional Ragunan masih ditanggung pemerintah daerah.

Ia berharap peningkatan pendapatan dapat mendorong Ragunan bertransformasi menjadi Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) yang lebih mandiri secara finansial.

“Harapan kami dengan adanya peningkatan tarif ini adalah Taman Margasatwa Ragunan bisa mandiri secara finansial. Efisiensi pada anggaran APBD nantinya bisa digunakan untuk program lain yang lebih membutuhkan,” tuturnya.

Kenneth juga meminta tambahan pendapatan digunakan untuk kebutuhan vital, mulai dari sanitasi, kebersihan toilet, pemeliharaan kandang, program pemuliaan satwa hingga kesejahteraan pegawai dan petugas teknis.

Menurut dia, pengelolaan satwa juga membutuhkan pembiayaan yang memadai. Salah satunya mendorong skema pertukaran satwa antar kebun binatang untuk mendukung program konservasi dan perkembangbiakan.

“Kondisi satwa harus tetap prima. Bahkan untuk satwa besar seperti gorila jantan yang saat ini belum memiliki pasangan, kita dorong agar ada skema pertukaran satwa antar kebun binatang agar bisa mendapatkan gorila betina,” ujarnya.

Ia juga menyoroti keterbatasan tenaga dokter hewan. Saat ini, delapan dokter hewan harus menangani lebih dari 2.200 satwa di Ragunan.

“Kalau penyesuaian tarif tiket masuk bisa menambah pemasukan, maka penambahan dokter hewan harus menjadi hal prioritas yang wajib dilakukan,” tegas Kenneth.

Kepala Taman Margasatwa Ragunan Endah Rumiyanti menyambut baik wacana penyesuaian tarif tersebut. Ia mengatakan pendapatan mandiri Ragunan selama ini masih jauh dari kebutuhan operasional.

“Total kebutuhan anggaran operasional kami per tahunnya mencapai sekitar Rp160 miliar, tapi pendapatan mandiri yang mampu kami kumpulkan baru sekitar Rp30 miliar per tahun. Artinya, tingkat subsidi dari pemerintah daerah masih berada di kisaran 70 persen,” jelas Endah.

Endah menegaskan penyesuaian tarif bukan bentuk komersialisasi kawasan. Kebijakan tersebut diarahkan untuk memperkuat pelayanan publik dan mendukung realisasi masterplan pengembangan Ragunan.

Jika terealisasi, tambahan pendapatan akan difokuskan pada pembenahan fasilitas, pemeliharaan kandang, serta penataan zonasi kawasan. 

Target akhirnya, Ragunan dapat menjadi ruang terbuka hijau dan kebun binatang berstandar internasional yang aman, nyaman, dan edukatif. (P-4)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |