Ekosistem Seni Taman Ismail Marzuki Diperkuat melalui Paviliun Raden Saleh

2 weeks ago 32
Ekosistem Seni Taman Ismail Marzuki Diperkuat melalui Paviliun Raden Saleh ilustrasi(Antara)

Taman Ismail Marzuki (TIM) terus memperkuat posisinya sebagai pusat kolaborasi seni dan budaya, melampaui fungsinya yang selama ini dikenal sebagai tempat pertunjukan. Kawasan ini kini bertransformasi menjadi ruang hidup bagi para seniman untuk berkarya, berdiskusi, berjejaring, hingga bertukar gagasan kreatif.

Penguatan ekosistem seni di TIM salah satunya ditopang oleh kehadiran Paviliun Raden Saleh (PRS). Fasilitas ini dirancang khusus untuk mendukung kebutuhan para seniman yang berkegiatan di kawasan TIM, termasuk mereka yang datang dari luar Jakarta maupun mancanegara.

Head of SBU TIM PT Jakarta Propertindo (Perseroda) atau Jakpro, Anya Aprilia, menjelaskan bahwa PRS dibangun dengan memahami karakteristik TIM sebagai titik temu para pelaku seni. "Kehadiran fasilitas tersebut memungkinkan seniman dari luar Jakarta, bahkan dari luar negeri, mendapatkan tempat yang mendukung selama berkegiatan di kawasan TIM," ujar Anya pada Rabu (2/9).

Kolaborasi dan Pameran 100 Tahun Ali Sadikin

Implementasi kolaborasi antara Jakpro dan komunitas seni juga tercermin dalam penyelenggaraan Pameran Seni Rupa bertajuk “100 Tahun Ali Sadikin: Memoria dan Utopia Jakarta”. Pameran yang dikuratori oleh Syakieb Sungkar ini melibatkan 35 seniman lintas daerah, mulai dari Jakarta, Bandung, hingga Yogyakarta.

Agenda tersebut dijadwalkan berlangsung di Selasar Nashar, Paviliun Raden Saleh, TIM, mulai 20 November hingga 10 Desember 2026. Pameran ini tidak hanya mengangkat warisan sejarah Ali Sadikin, tetapi juga mendiskusikan gagasan masa depan Jakarta sebagai kota seni dan budaya global.

Ruang Hidup bagi Seniman Dunia

Seniman TIM sekaligus Panitia Pameran, Seno Joko Suyono, menilai TIM telah berkembang menjadi ruang pertemuan internasional. Menurutnya, keberadaan fasilitas pendukung seperti ruang tinggal dan ruang diskusi sangat krusial bagi produktivitas seniman.

“TIM saat ini bukan hanya menjadi ruang pertunjukan, tetapi telah berkembang menjadi ruang yang mempertemukan dan menghubungkan para seniman, baik dari berbagai daerah di Indonesia maupun dari dunia internasional,” ungkap Seno.

Ia menambahkan bahwa bagi para seniman, TIM bukan sekadar deretan gedung atau kawasan kesenian statis. “TIM adalah ruang hidup tempat gagasan bertemu, karya tumbuh, dan kebudayaan Indonesia diperkenalkan kepada dunia,” tegasnya.

Melalui penguatan ekosistem ini, TIM diharapkan semakin menegaskan posisinya sebagai rumah bersama bagi seniman sekaligus ruang publik yang inklusif. Aktivitas seni yang berkelanjutan di kawasan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat identitas Jakarta sebagai kota global yang tetap berpijak pada akar budaya yang kuat. (E-3)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |