Visual Gunung Ili Lewotolok, Rabu (9/9/2026) sore.(Dok Magma Indonesia )
ERUPSI Gunung Ile Lewotolok di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT), memicu persoalan serius bagi masyarakat di dua kecamatan yang berada di sekitar gunung tersebut.
Selain paparan abu vulkanik, warga kini menghadapi keterbatasan air bersih karena sumber air yang selama ini digunakan tercemar abu.
Berdasarkan pendataan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lembata, dampak erupsi mencakup 26 desa di Kecamatan Ile Ape dan Ile Ape Timur dengan total 5.816 keluarga atau 19.998 jiwa.
Kepala BPBD Kabupaten Lembata, Andris Koban, mengatakan masyarakat di dua kecamatan tersebut selama ini mengandalkan air hujan dan sumur dangkal untuk memenuhi kebutuhan air.
“Kasihan warga, di dua kecamatan tersebut tidak ada sumber air. Mereka hanya mengandalkan air hujan dan sumur dangkal, namun semuanya terkontaminasi oleh abu vulkanik,” kata Andris, Rabu (9/9).
Di Kecamatan Ile Ape Timur, terdapat sembilan desa terdampak dengan 2.092 keluarga atau 6.673 jiwa. Sementara di Kecamatan Ile Ape terdapat 17 desa dengan 3.724 keluarga atau 13.325 jiwa.
Menurutnya, kebutuhan air bersih di dua kecamatan itu mencapai 260 tangki dengan kapasitas masing-masing 5.000 liter. Jumlah tersebut terdiri atas 90 tangki untuk sembilan desa di Ile Ape Timur dan 170 tangki untuk 17 desa di Ile Ape.
Jika dihitung berdasarkan kapasitas tangki, kebutuhan tersebut mencapai sekitar 1,3 juta liter air bersih. Namun hingga Rabu (9/9), bantuan air bersih belum diterima masyarakat.
“Belum ada bantuan air bersih. Baru pengajuan ke BNPB,” tambah Andris.
Menurutnya, BPBD juga mengajukan kebutuhan 210 ribu lembar masker dan 61 ribu penutup kepala untuk masyarakat terdampak di dua kecamatan tersebut.
Kebutuhan masker terdiri atas 70 ribu lembar untuk Ile Ape Timur dan 140 ribu lembar untuk Ile Ape, dan kebutuhan penutup kepala masing-masing 21 ribu dan 40 ribu buah.
Andris mengatakan keterbatasan anggaran membuat pemerintah daerah belum dapat memenuhi seluruh kebutuhan tersebut secara mandiri.
“Kami tidak ada anggaran, jadi belum bisa (pengadaan air bersih dan masker) ,” katanya.
Dia mengatakan, BPBD Lembata juga berupaya mendapatkan dukungan dari pihak swasta. Namun, bantuan dari pihak swasta belum kembali tersedia setelah sebelumnya turut membantu penanganan kekeringan di wilayah tersebut.
Diguyur Abu Selama 24 Jam
Dihubungi di tempat terpisah, Camat Ile Ape, Kabupaten Lembata, Laurensius Lebe, mengatakan sebanyak 17 desa di wilayahnya terdampak abu vulkanik. Namun, intensitas paling parah terjadi di 11 desa.
Menurutnya, di 11 desa tersebut abu vulkanik turun secara terus-menerus selama 24 jam. Kondisi itu dipengaruhi arah angin dari kawasan puncak gunung yang saat ini bergerak dari timur-tenggara menuju barat laut.
Dia mengatakan, sejumlah desa mengalami dampak abu vulkanik yang sangat masif. Material letusan setiap kali erupsi dengan cepat terbawa angin menuju permukiman warga.
“Ini karena durasi letusan atau erupsi sekarang ini juga cepat sekali. Setiap kali letusan, langsung debunya diterbawa angin ke arah sektor barat laut,” katanya.
Sementara enam desa lainnya di Ile Ape juga terdampak abu vulkanik, tetapi intensitasnya tidak sebanyak 11 desa yang berada di sektor tersebut. Dampak abu juga dirasakan di sembilan desa di Kecamatan Ile Ape Timur. Menurut Laurensius, perubahan arah angin membuat wilayah tersebut turut terdampak material vulkanik.
Kulit Gatal dan Mata Perih
Menurut Laurensius, paparan abu vulkanik mulai dirasakan langsung masyarakat seperti kulit gatal dan mata perih.
Karena itu, kebutuhan masker dan penutup kepala menjadi mendesak untuk melindungi warga dari paparan abu vulkanik.
Dia menyebutkan, masyarakat setempat juga mengandalkan sumur gali. Abu vulkanik yang terus turun berpotensi mencemari sumber air warga.
"Di Ile Ape sampai ke timur itu sangat mengandalkan sumur gali dan sumur-sumur ini sudah pasti tercemar debu letusan tadi,” jelasnya. (PO/E-4)


















































