Fenomena Ekuinoks 20 Maret 2026, Matahari Tepat di Atas Khatulistiwa

8 hours ago 2

Jakarta, CNN Indonesia --

Fenomena ekuinoks atau Matahari berada tepat di atas khatulistiwa akan terjadi pada bulan ini. Simak fakta-faktanya berikut ini.

Ekuinoks Maret hampir tiba dan menjadi penanda musim semi akan segera dimulai di Belahan Bumi Utara, serta penanda musim gugur akan dimulai di Belahan Bumi Selatan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ekuinoks terjadi dua kali dalam setahun. Ketika fenomena ini terjadi, durasi siang dan malam hampir sama panjangnya di Belahan Bumi Selatan dan Utara.

Sekitar bulan Juli, Belahan Bumi Utara mengalami periode siang hari yang lebih panjang, sedangkan Belahan Bumi Selatan mengalami periode siang hari yang lebih pendek.

Lalu, sekitar bulan Desember, yang terjadi adalah sebaliknya, dengan lebih banyak waktu siang hari di Belahan Bumi Selatan dan lebih sedikit di Belahan Bumi Utara.

Namun, dua kali dalam setahun, pada Maret dan September, kemiringan planet kita selaras dengan orbitnya mengelilingi Matahari, dan Bumi tidak terlihat miring terhadap Matahari.

Pada waktu-waktu ini, Matahari berada tepat di atas garis khatulistiwa dan kedua belahan Bumi mengalami waktu siang dan malam yang sama. Namun, siang dan malam tidak sepenuhnya sama selama ekuinoks, meskipun sangat dekat.

Selama ekuinoks, Bumi mendapatkan cahaya Matahari beberapa menit lebih lama.

Ekuinoks musim semi biasanya terjadi antara tanggal 19, 20, atau 21 Maret. Pada tahun ini, ekuinoks musim semi jatuh pada tanggal 20 Maret.

Nama fenomena ini berasal dari kata Latin 'aequus' (sama) dan 'nox' (malam).

Saat perjalanannya menuju ekuinoks, Matahari akan membuat fenomena Hari Tanpa Bayangan atau Kulminasi Utama di berbagai wilayah.

Pada waktu tersebut, posisi Matahari akan tepat berada di atas kepala pengamat, sehingga menyebabkan bayangan bertumpuk pada benda di tengah hari.

Karena posisi Indonesia berada di khatulistiwa, maka fenomena Hari Tanpa Bayangan akan berdekatan dengan periode waktu ekuinoks.

Dikutip dari Live Science, Bumi mengorbit Matahari dengan kemiringan sekitar 23,5 derajat. Hal ini membuat bagian yang berbeda dari planet kita menerima lebih banyak atau lebih sedikit radiasi Matahari pada waktu yang berbeda sepanjang tahun, tergantung pada posisi planet kita dalam orbitnya.

Sebagaimana diketahui, Matahari terbit di timur dan terbenam di barat. Namun, Matahari juga tampak bergerak ke utara selama setengah tahun dan ke selatan selama setengah tahun berikutnya, tergantung di mana pengamat berada.

(lom/dmi)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |