Direktur Utama Ganesha Operation Prof Bob Foster bersama ribuan peserta Meeting on Maximizing Motivation.(ISTIMEWA)
PERSAINGAN memperebutkan kursi sekolah favorit dan perguruan tinggi negeri (PTN) semakin ketat. Kondisi ini membuat siswa tidak cukup hanya mengandalkan semangat belajar menjelang ujian.
Mereka membutuhkan konsistensi, strategi belajar terukur, serta dukungan orangtua sejak jauh-jauh hari.
Direktur Utama Ganesha Operation (GO), Prof Bob Foster mengatakan tingginya tingkat persaingan seleksi pendidikan harus disikapi secara realistis oleh siswa dan orang tua.
Hal itu disampaikan pimpinan lembaga bimbingan belajar yang berbasis di Bandung, Jawa Barat, itu dalam seminar motivasi tahunan Meeting on Maximizing Motivation (M3), Minggu (30/8).
Dalam sesi bertajuk Set Your Future, Bob memaparkan data persaingan masuk PTN. Dari lebih 5,4 juta siswa kelas 12 SMA/SMK/MA di Indonesia, hampir 91% peserta seleksi SNBP dan SNBT pada 2026 tidak berhasil lolos. Sementara hanya sekitar 9% yang diterima.
“Angka 9% itu bukan untuk menakuti, tapi untuk menyadarkan bahwa usaha kalian harus lebih besar dari rata-rata. Yang membedakan siswa yang lolos dan tidak adalah konsistensi,” tegasnya.
Menurut dia, data tersebut seharusnya tidak membuat siswa minder. Sebaliknya, kondisi itu perlu menjadi dasar untuk menyusun strategi belajar sejak awal, bukan sekadar meningkatkan intensitas belajar ketika ujian sudah semakin dekat.
“Yang penting bukan hanya seberapa kuat semangat kalian hari ini, tetapi apakah kalian mampu mempertahankan usaha tersebut secara konsisten,” ujarnya.
DIMULAI DARI HAL KECIL
M3 tahun ini diikuti hampir 4.000 siswa dan orangtua. Program tersebut ditujukan bagi siswa yang mempersiapkan diri menghadapi seleksi masuk sekolah favorit, PTN maupun perguruan tinggi kedinasan.
Selain Set Your Future untuk siswa kelas 12 dan gap year, GO menghadirkan sesi Grab Your Vision bagi siswa kelas 6 SD dan kelas 9 SMP. Materi ini disesuaikan dengan tantangan siswa yang tengah menghadapi masa transisi pendidikan sekaligus persaingan masuk sekolah favorit.
Bob mengatakan tekanan yang dihadapi siswa kelas 6 SD dan kelas 9 SMP tidak kalah besar dibandingkan siswa kelas 12. Perbedaannya terletak pada bentuk persaingannya.
“Perubahan itu dimulai dari hal kecil, seperti berani menyelesaikan satu tugas yang selama ini ditunda. Kalau itu sudah bisa, hal-hal besar akan lebih mudah dihadapi,” katanya.
Ia menegaskan di tengah persaingan pendidikan yang semakin tinggi, peran orangtua juga menjadi bagian penting dalam keberhasilan anak. Dukungan dari rumah dapat menjadi fondasi bagi siswa ketika menghadapi tekanan kompetisi maupun masa transisi ke jenjang pendidikan baru.
Orangtua Rachel Shine Hutagalung, siswa SMAN 5 Medan, menilai kegiatan tersebut menjadi pengingat agar orangtua tetap memantau perkembangan anak di tengah kesibukan.
“Harapan saya untuk anak saya, terbanglah tinggi, capailah cita-citamu, dan jadilah perempuan yang tangguh serta bertanggungjawab,” ujarnya.
Pesan orangtua tersebut kemudian disambut melalui pembacaan ikrar siswa. Para siswa berjanji untuk bersungguh-sungguh mengejar cita-cita, sementara orangtua memberikan doa dan restu.
PENUHI TARGET
Bagi Rachel, sesi motivasi M3 membantunya lebih percaya diri dalam menentukan target pendidikan. Remaja yang mengikuti bimbingan belajar di GO cabang Sisingamangaraja itu mengaku mendapatkan perspektif baru mengenai cara mencapai target.
“Materi yang paling berkesan itu soal bagaimana aku jadi lebih tahu cara-cara supaya target aku bisa terpenuhi. Jadinya aku lebih yakin dengan pilihan aku dan pasti akan lebih berusaha lagi,” katanya.
M3 menjadi bagian dari program motivasi belajar yang digelar GO secara rutin di berbagai kota. Dengan jaringan bimbingan belajar tatap muka berbasis teknologi digital yang mencapai 720 gerai di Indonesia, program tersebut diarahkan untuk melengkapi pendampingan akademik dengan kesiapan mental dan motivasi siswa.
Di tengah ketatnya kompetisi masuk sekolah dan perguruan tinggi, pendekatan tersebut semakin relevan. Persiapan pendidikan tidak lagi hanya berkaitan dengan penguasaan materi pelajaran, tetapi juga kemampuan siswa menetapkan tujuan, menjaga konsistensi, mengevaluasi diri dan memperoleh dukungan dari lingkungan


















































