Dari sisi konsep, Le Parc Residences dikembangkan sebagai hunian mewah berkonsep low-rise dan low-density. Pengembangan tersebut dirancang oleh firma arsitektur internasional WATG dan hanya terdiri atas 115 unit hunian.(Dok. Le Parc Residences)
PERUBAHAN gaya hidup masyarakat perkotaan turut menggeser preferensi terhadap hunian. Selain lokasi dan kualitas bangunan, tempat tinggal kini dituntut mampu mendukung berbagai aktivitas penghuni, mulai dari olahraga dan relaksasi hingga rekreasi bersama keluarga, tanpa harus bergantung pada fasilitas di luar kawasan.
Tren tersebut terlihat pada pengembangan hunian premium di kawasan pusat bisnis Jakarta. Konsep hunian tidak lagi berhenti pada penyediaan ruang privat, tetapi mulai mengintegrasikan fasilitas olahraga, wellness, hiburan, serta ruang komunal untuk menciptakan lingkungan tinggal yang lebih mendukung keseimbangan antara aktivitas dan waktu istirahat.
Salah satu hunian yang mengusung pendekatan tersebut adalah Le Parc Residences yang berada di dalam kawasan Thamrin Nine, Jakarta. Hunian ini menawarkan berbagai fasilitas yang dirancang untuk menunjang aktivitas penghuni sekaligus memanfaatkan posisi Thamrin Nine sebagai kawasan mixed use di pusat kota.
Untuk penghuni dengan gaya hidup aktif, tersedia sports hall multifungsi yang dapat digunakan untuk basket, badminton, maupun pickleball. Fasilitas olahraga tersebut dilengkapi pusat kebugaran, studio olahraga untuk aktivitas seperti yoga dan mat pilates, serta jogging track.
Kebutuhan terhadap aspek kesehatan dan pemulihan juga menjadi bagian dari fasilitas yang ditawarkan. Area wellness mencakup sauna, jacuzzi, dan cold plunge yang dapat digunakan untuk relaksasi maupun pemulihan setelah berolahraga atau menjalani aktivitas harian.
Di sisi lain, fasilitas rekreasi dirancang untuk mengakomodasi kebutuhan penghuni dari berbagai kelompok usia. Le Parc menyediakan movie room, ruang karaoke, area biliar, arena boling, kolam renang, serta children’s pool.
Hunian tersebut juga memiliki area mezzanine yang berfungsi sebagai ruang komunal. Area ini dapat dimanfaatkan untuk bersantai, bekerja secara fleksibel, maupun melakukan pertemuan informal dengan kolega. Kebutuhan penghuni turut didukung layanan concierge.
Terintegrasi dengan kawasan mixed use
Selain kelengkapan fasilitas internal, aspek lain yang menjadi pertimbangan dalam hunian perkotaan adalah kemudahan akses terhadap fasilitas pendukung di luar tempat tinggal.
Le Parc berada di dalam Thamrin Nine, sebuah kawasan mixed use yang mengintegrasikan hunian, perkantoran, hotel, serta destinasi gaya hidup. Integrasi tersebut memungkinkan penghuni mengakses berbagai kebutuhan dalam satu kawasan, termasuk menuju Agora Mall.
Lokasinya di pusat Jakarta juga memberikan akses terhadap sejumlah pilihan transportasi publik, antara lain MRT, LRT, Airport Rail Link, KRL Commuter Line, dan TransJakarta. Konektivitas ini menjadi salah satu faktor yang mendukung mobilitas penghuni di tengah aktivitas perkotaan yang semakin dinamis.
Bagi masyarakat yang memiliki aktivitas tinggi di pusat Jakarta, kombinasi antara hunian, fasilitas rekreasi, wellness, serta akses transportasi dapat membantu mengurangi kebutuhan perjalanan untuk berbagai aktivitas sehari-hari.
Mengedepankan privasi
Dari sisi konsep, Le Parc Residences dikembangkan sebagai hunian mewah berkonsep low-rise dan low-density. Pengembangan tersebut dirancang oleh firma arsitektur internasional WATG dan hanya terdiri atas 115 unit hunian.
Jumlah unit yang terbatas menjadi bagian dari pendekatan pengembangan yang mengedepankan privasi dan kenyamanan penghuni. Standar desain dan konstruksi premium juga diterapkan untuk mendukung kualitas hunian dalam jangka panjang.
Salah satunya melalui penggunaan kaca double-glazed yang membantu meningkatkan kenyamanan akustik sekaligus menciptakan suasana hunian yang lebih tenang di tengah lingkungan pusat kota.
Dengan memadukan fasilitas olahraga, wellness, rekreasi, ruang komunal, layanan pendukung, serta konektivitas kawasan, konsep hunian seperti Le Parc menunjukkan perkembangan kebutuhan masyarakat urban terhadap tempat tinggal.
Hunian di pusat kota kini tidak hanya dipandang sebagai ruang untuk beristirahat setelah bekerja, tetapi juga sebagai bagian dari ekosistem kehidupan sehari-hari yang dapat mendukung kesehatan, produktivitas, rekreasi, dan interaksi sosial dalam satu lingkungan. (E-1)















































