REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Group of Seven (G7) yang terdiri dari Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Jerman, Italia, Kanada, dan Jepang telah memberi sinyal kemungkinan melepaskan cadangan minyak darurat di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, Selasa (10/3/2026). Meski telah turun ke level di bawah 90 dolar AS per barel, lonjakan harga minyak dengan cepat tercermin di pasar bahan bakar grosir dan ritel negara-negara Eropa.
Di Lithuania, harga rata-rata di pompa ritel meningkat menjadi 1,58 euro (sekitar 1,83 dolar AS) per liter untuk bensin dan 1,93 euro (sekitar 2,24 dolar) per liter untuk diesel, masing-masing mewakili kenaikan sekitar 7,3 persen dan 17,6 persen dibandingkan sepekan lalu.
Di Bosnia dan Herzegovina (BiH), harga diesel di entitas Republika Srpska melonjak sekitar 25 persen sejak awal Maret, sementara harga rata-rata diesel mencapai hampir 1,62 dolar per liter di entitas Federasi BiH, meningkat 16,7 persen dibandingkan 28 Februari.
Pasar gas Eropa juga bereaksi tajam terhadap ketegangan tersebut. Kontrak berjangka gas alam Dutch TTF untuk pengiriman April naik 11,59 persen menjadi 59,57 euro (69,19 dolar) per megawatt-jam pada Senin. Kontrak tersebut berada pada 31,96 euro (37,12 dolar) pada 27 Februari, yang mewakili kenaikan sekitar 86,4 persen dalam enam hari perdagangan.
Pasar saham Eropa ditutup lebih rendah, meskipun kerugian menyempit dibandingkan sebelumnya dalam sesi perdagangan ketika harga minyak turun dari puncaknya. Indeks acuan Inggris FTSE 100 turun 35,23 poin, atau 0,34 persen, ditutup pada 10.249,52 poin. Indeks DAX Jerman turun 0,77 persen menjadi sekitar 23.409 poin, sementara indeks CAC 40 Prancis turun 0,98 persen menjadi sekitar 7.915 poin.
Menanggapi volatilitas pasar yang tajam, para menteri keuangan G7 dan Direktur Eksekutif Badan Energi Internasional (IEA) Fatih Birol mengadakan pertemuan konferensi video pada Senin. Birol mengatakan kondisi pasar telah memburuk dalam beberapa hari terakhir dan bahwa para peserta membahas semua opsi yang tersedia, termasuk menyediakan cadangan minyak darurat IEA ke pasar jika diperlukan.
Negara-negara anggota IEA diwajibkan mempertahankan cadangan minyak yang setara dengan setidaknya 90 hari impor bersih untuk memastikan respons terkoordinasi terhadap gangguan pasokan serius yang memengaruhi pasar minyak global.
"Kami siap mengambil langkah yang diperlukan, termasuk menggunakan cadangan strategis, untuk menstabilkan pasar," kata Menteri Ekonomi Prancis Roland Lescure setelah pertemuan tersebut, sembari menegaskan bahwa tindakan seperti itu belum diperlukan saat ini.
sumber : Xinhua

7 hours ago
6

















































