REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kawasan Jagakarsa, Jakarta Selatan, kini kehadiran bangunan yang tidak hanya disusun dari semen dan bata, melainkan dari kegelisahan seorang sineas. Sutradara Hanung Bramantyo, setelah dua dekade berkarya di balik lensa, menemukan satu "mahakarya" yang membuatnya merasa benar-benar utuh. Bukan film peraih piala festival, melainkan rumah ibadah yang didirikan bersama sang istri, Zaskia Adya Mecca, dan para donatur yaitu Masjid Salim Kamil.
Bangunan ini berdiri sebagai representasi visual dari perjalanan spiritual dan sosial pasangan selebritas tersebut, yang selama ini lebih banyak dikenal melalui layar kaca dan layar lebar. Hanung mengatakan proses pembangunan masjid ini memakan waktu sekitar dua tahun.
Sebagai sutradara yang dikenal perfeksionis, ia tidak membiarkan satu detail pun meleset. Kedisiplinannya di lokasi syuting terbawa hingga ke setiap sudut konstruksi. Baginya, setiap pilar, lekuk dinding, dan tata cahaya adalah bagian dari sebuah frame besar yang harus menyampaikan pesan kepada siapa pun yang datang.
Tak jarang, ia melakukan "penyuntingan" langsung jika struktur bangunan tidak sesuai dengan rasa yang ia inginkan. Baginya, sebuah bangunan harus memiliki jiwa, sama seperti sebuah skenario yang harus bernapas di tangan pemainnya.
"Karena saya orang yang sangat detail jadi membuat rumah itu kayak membuat film. Jadi kalau ada yang perlu saya edit, saya edit. Jadi tukang-tukangnya juga saya 'jump cut' gitu kan? Kalau nggak sesuai sama detail yang pembangunannya yang saya mau, ya saya replace, saya ganti pemain. Saya ganti pemain aja," ujarnya saat ditemui di Jakarta pada Rabu (4/3/2026).
Masjid Salim Kamil bukanlah sekadar proyek estetika untuk memuaskan ego arsitektural. Hanung dan Zaskia membawa misi yang lebih dalam dari sekadar fisik bangunan yang megah. Mereka ingin mengubah paradigma tentang fungsi masjid di tengah masyarakat modern yang sering kali individualis.
Selama ini, ada masjid yang hanya berfungsi sebagai tempat ritual formal yang terkunci di luar waktu sholat. Namun, bagi keluarga ini, Ramadhan dan Lebaran tahun ini menjadi momentum emosional karena karya ini menghubungkan urusan duniawi dengan harapan surgawi. Ini adalah "warisan" yang mereka siapkan bukan hanya untuk publik, tetapi sebagai teladan bagi anak-anak mereka tentang arti memberi kembali kepada masyarakat.
"Ini adalah momentum kami Lebaran dan puasa yang membanggakan buat keluarga, buat saya, buat anak-anak keluarga, saya dan Saskia karena kami bisa berkarya bareng dan bukan hanya sekedar duniawi tapi surgawi," kata Hanung.

2 hours ago
3
















































