Harga Bawang Merah Turun, Petani di Pidie Aceh Pilih Tunda Panen

5 hours ago 1
Harga Bawang Merah Turun, Petani di Pidie Aceh Pilih Tunda Panen Imum Mukim Gigieng, Muhammad Abubakar bersama Kasubbag Program dan Keuangan Kantor Camat Simpang Tiga, Kabupaten Pidie, Aceh, Mustamar Arifina sedang mengontrol tanaman bawang merah di Desa Pulo Blang, Kecamatan Simpang Tiga.(Dok. MI/AMIRUDDIN ABDULLAH REUBEE)

PARA petani bawang merah di Kabupaten Pidie, Provinsi Aceh, terpaksa mengambil langkah untuk menunda masa panen mereka. Keputusan ini diambil menyusul merosotnya harga jual bawang merah kering panen di tingkat petani dalam beberapa waktu terakhir.

Berdasarkan pantauan di lapangan selama tiga hari terakhir, khususnya di kawasan Kecamatan Simpang Tiga, belasan hektare lahan bawang merah belum disentuh pemiliknya meski sudah memasuki masa panen. Secara teknis, tanaman tersebut telah berusia antara 52 hingga 60 hari, yang merupakan usia ideal untuk dipanen.

"Seharusnya sudah bisa dipanen. Biasanya pada usia 60 hari langsung kita panen. Tapi untuk kali ini saya tidak memanen dulu karena harga sedang turun," ujar Muhammad Abubakar, Imum Mukim (tokoh adat) Gigieng, Kamis (30/7).

Muhammad menjelaskan bahwa dirinya berencana mengulur waktu panen hingga tanaman mencapai usia 70 hari. Strategi ini dilakukan dengan harapan harga akan kembali membaik di masa mendatang. Selain itu, penundaan ini bertujuan agar umbi bawang merah menjadi lebih padat dan berisi, sehingga kualitasnya meningkat saat dijual nanti.

Rincian Penurunan Harga

Saat ini, harga jual bawang merah kualitas terbaik di tingkat petani yang dijual ke pedagang pengumpul berada di angka Rp24.000 per kg. Angka ini turun signifikan dibandingkan bulan lalu yang sempat menyentuh Rp35.000 per kg.

Kondisi serupa terjadi pada bawang merah kualitas standar. Harga yang biasanya mencapai Rp28.000 per kg, kini anjlok menjadi Rp20.000 per kg. Para petani sangat berharap tren penurunan ini segera berakhir dan harga kembali stabil di angka yang menguntungkan.

Terkait kondisi ini, petani mendesak pemerintah daerah maupun instansi terkait untuk turun tangan mengontrol harga pasar. Langkah pengawasan dinilai krusial guna melindungi para petani dari potensi permainan harga oleh oknum mafia pasar yang kerap memanfaatkan situasi panen.

Potensi Lahan di Simpang Tiga

Kasubbag Program dan Keuangan Kantor Kecamatan Simpang Tiga, Mustamar Atifina, mengungkapkan bahwa wilayahnya memiliki potensi lahan bawang merah yang cukup luas, yakni sekitar 200 hektare. Sebagian besar lahan tersebut merupakan area persawahan yang dialihfungsikan untuk menanam bawang pada musim gadu (musim tanam kedua).

"Di sini kawasan hilir, sulit mendapatkan air dari sumber irigasi teknik. Karena itu, warga lebih suka menanam bawang merah. Selain harganya yang biasanya menjanjikan, usia panennya juga jauh lebih cepat dibandingkan padi," jelas Mustamar.

Penundaan panen menjadi pilihan dilematis bagi petani di Pidie demi menjaga nilai ekonomi komoditas unggulan daerah tersebut di tengah fluktuasi harga pasar. (H-3)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |