Epsilon Perseids(Doc ABC 7 news)
LANGIT malam September kembali menghadirkan fenomena astronomi menarik. Hujan meteor Epsilon Perseids September diperkirakan mencapai puncaknya pada malam 9 September hingga dini hari 10 September 2026.
Berbeda dengan hujan meteor Perseid yang terkenal dan muncul setiap Agustus, Epsilon Perseids merupakan hujan meteor yang lebih kecil dan berasal dari wilayah rasi Perseus. Fenomena ini aktif sekitar 5–21 September setiap tahun, dengan puncak aktivitas pada 9 September.
Tahun ini, kondisi pengamatan tergolong menguntungkan karena puncaknya berlangsung menjelang fase Bulan baru. Cahaya Bulan yang minim membuat langit menjadi lebih gelap sehingga meteor yang redup maupun jejak cahaya yang cepat lebih mudah terlihat.
International Meteor Organization (IMO) memperkirakan Epsilon Perseids dapat mencapai Zenithal Hourly Rate (ZHR) sekitar delapan meteor per jam pada kondisi pengamatan ideal. Namun, jumlah meteor yang benar-benar terlihat dari suatu lokasi dapat lebih rendah karena dipengaruhi kondisi langit, polusi cahaya, cuaca, serta posisi pengamat.
Kapan Waktu Terbaik Melihat Epsilon Perseids
Puncak hujan meteor terjadi pada malam 9 September hingga dini hari 10 September. Rasi Perseus yang menjadi titik pancaran atau radiant meteor akan semakin tinggi di langit menjelang dini hari.
Data pengamatan menunjukkan waktu terbaik berada pada beberapa jam setelah tengah malam hingga menjelang fajar. Di wilayah belahan bumi utara, kondisi pengamatan menjadi lebih menguntungkan karena rasi Perseus berada lebih tinggi di langit.
Di kawasan Asia, termasuk Indonesia, pengamat tetap dapat mencoba melihat fenomena ini dengan mencari lokasi yang jauh dari lampu kota. Namun, karena radiant Epsilon Perseids berada di rasi Perseus dan lebih tinggi di langit belahan bumi utara, kondisi pengamatan dari Indonesia tidak sebaik wilayah utara.
Jangan Tertukar dengan Perseid Agustus
Meski memiliki nama yang sama, Epsilon Perseids September dan Perseid Agustus merupakan dua hujan meteor yang berbeda.
Perseid yang terkenal pada Agustus berasal dari debu dan material yang ditinggalkan Komet 109P/Swift-Tuttle. Sementara itu, asal-usul benda induk Epsilon Perseids September masih belum diketahui secara pasti dan diduga berkaitan dengan sebuah komet periode panjang.
Epsilon Perseids juga jauh lebih lemah dibandingkan Perseid Agustus. Namun, meteor dari hujan ini bergerak sangat cepat ketika memasuki atmosfer Bumi, dengan kecepatan sekitar 64 kilometer per detik.
Menariknya, catatan pengamatan menunjukkan hujan meteor ini pernah menghasilkan peningkatan aktivitas pada 2008 dan kembali menampilkan peristiwa meteor terang pada 2013. Karena itu, meski aktivitas normalnya relatif rendah, pengamat tetap memiliki peluang melihat meteor terang atau fireball.
Cara Terbaik Mengamatinya
Untuk menyaksikan Epsilon Perseids, pengamat tidak membutuhkan teleskop atau peralatan khusus. Mata telanjang justru menjadi pilihan terbaik karena memungkinkan melihat area langit yang lebih luas.
Pilih lokasi yang gelap dan jauh dari sumber cahaya. Setelah itu, beri waktu sekitar 20–30 menit agar mata beradaptasi dengan kegelapan.
Pengamat juga tidak perlu terus-menerus menatap tepat ke arah rasi Perseus. Meteor dapat muncul di berbagai bagian langit, meskipun jejaknya jika ditarik ke belakang akan tampak berasal dari wilayah rasi tersebut.
Dengan kondisi langit yang gelap menjelang Bulan baru, malam 9 hingga dini hari 10 September menjadi salah satu kesempatan terbaik tahun ini untuk mencoba menangkap meteor Epsilon Perseids. Meski tidak akan menghasilkan pertunjukan sebanyak Perseid Agustus, kemunculan meteor yang cepat dan sesekali terang tetap menjadi tontonan menarik bagi para pengamat langit.
Sumber: USA Today 10 Best


















































