Ilmuwan Temukan Haolong dongi, Dinosaurus Berduri Mirip Landak 

20 hours ago 4
Ilmuwan Temukan Haolong dongi, Dinosaurus Berduri Mirip Landak  Rekonstruksi gambar Haolong dongi.(IFL Science)

PARA ilmuwan menemukan spesies dinosaurus baru bernama Haolong dongi yang hidup sekitar 125 juta tahun lalu pada periode Kapur Awal (Early Cretaceous). Penemuan ini menjadi istimewa karena tidak hanya menghasilkan fosil tulang, tetapi juga kulit yang terawetkan dengan sangat baik sehingga mengungkap keberadaan duri-duri di tubuh dinosaurus tersebut.

Temuan yang dilaporkan peneliti dan dilansir dari IFL Science ini memberikan gambaran baru mengenai cara dinosaurus herbivora melindungi diri dari predator. Selama ini, mekanisme pertahanan yang paling dikenal berasal dari dinosaurus seperti ankylosaurus yang memiliki lapisan pelindung menyerupai baju zirah atau stegosaurus dengan lempeng tajam di punggungnya. Namun, penelitian terbaru menunjukkan evolusi ternyata juga menghasilkan bentuk pertahanan lain yang belum pernah diketahui sebelumnya.

Fosil Haolong dongi ditemukan di kawasan Lamagou, Provinsi Liaoning, Tiongkok, tepatnya di Formasi Yixian yang berusia sekitar 125 juta tahun. Awalnya, tulang dan gigi dinosaurus tersebut tampak tidak jauh berbeda dengan anggota kelompok Iguanodontia lainnya. Akan tetapi, kondisi lingkungan saat hewan itu mati membuat kulitnya ikut membatu dan bertahan hingga sekarang.

Kulit yang terawetkan ini menjadi temuan langka. Sebelumnya, bukti kulit dinosaurus dari kelompok Iguanodontia umumnya hanya berupa jejak sisik berukuran kecil. Sebagian besar fosil kulit yang pernah ditemukan berasal dari hadrosaurid yang hidup jauh lebih muda pada akhir periode Kapur.

Tim peneliti yang dipimpin Jiandong Huang dari Museum Geologi Anhui kemudian menetapkan spesies baru tersebut sebagai Haolong dongi. Nama Haolong berarti "naga berduri" dalam bahasa Mandarin, sedangkan nama dongi diberikan untuk menghormati paleontolog ternama asal Tiongkok, Dong Zhiming, yang meninggal dunia pada 2024.

Dinosaurus Muda Dengan Tubuh Penuh Duri

Fosil yang ditemukan memiliki panjang sekitar 2,45 meter dari ujung moncong hingga ekor. Namun, para peneliti memastikan individu tersebut masih berusia muda karena ruas-ruas tulang belakangnya belum menyatu sepenuhnya, menandakan proses pertumbuhan masih berlangsung.

Para ilmuwan belum dapat memastikan ukuran maksimal Haolong dongi ketika dewasa. Meski demikian, mereka memperkirakan kerabat dekatnya dapat tumbuh hingga sekitar 3 meter bahkan mencapai 5,5 meter, sementara beberapa anggota Iguanodontia di Eropa diketahui memiliki ukuran tubuh yang lebih besar.

Analisis terhadap kulit fosil menunjukkan adanya dua jenis sisik yang menyerupai reptil modern. Salah satu pola sisik ditemukan saling bertumpuk di bagian ekor, sedangkan sisik pada bagian tubuh lainnya tidak saling tumpang tindih seperti dinosaurus pada umumnya.

Menariknya, keberadaan duri-duri berongga berbentuk hampir silindris yang tumbuh di antara sisik tersebut. Struktur ini berbeda dengan proto-bulu yang dimiliki sebagian dinosaurus non-burung maupun duri bersisik pada sejumlah kadal modern. Para peneliti menilai duri tersebut kemungkinan berkembang melalui jalur evolusi yang berbeda.

Ukuran duri juga bervariasi. Sebagian besar hanya memiliki panjang sekitar 2 hingga 3 milimeter, tetapi beberapa di antaranya jauh lebih besar. Duri terpanjang yang berhasil ditemukan mencapai 44,2 milimeter dengan lebar pangkal sekitar 7,8 milimeter. Meski berbeda ukuran, seluruh duri memiliki bentuk dasar yang serupa.

Diduga Menjadi Senjata Bertahan Hidup

Menurut para peneliti, fungsi utama duri pada Haolong dongi kemungkinan sebagai alat pertahanan diri dari predator. Pada masa itu, dinosaurus pemakan tumbuhan harus menghadapi berbagai ancaman sehingga memiliki perlindungan tambahan dapat meningkatkan peluang untuk bertahan hidup.

Sebagian besar predator yang hidup berdampingan dengan Haolong dongi diperkirakan berukuran relatif kecil. Duri-duri tersebut mungkin tidak mampu sepenuhnya menghentikan serangan gigi maupun cakar predator, tetapi cukup efektif membuat proses menyerang dan memangsa menjadi lebih sulit dan memakan waktu lebih lama.

Selain sebagai alat pertahanan, para peneliti juga mempertimbangkan kemungkinan fungsi lain. Duri tersebut diduga membantu mempertahankan suhu tubuh di lingkungan yang dingin, berperan sebagai alat sensor untuk mendeteksi getaran di sekitar, atau bahkan digunakan untuk mengintimidasi pesaing maupun menarik perhatian calon pasangan. (IFL Science/Z-2)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |