Ilustrasi(magnifik)
ALAM semesta masih menyimpan banyak misteri yang belum sepenuhnya dipahami manusia. Salah satunya berkaitan dengan dark energy dan dark matter, dua komponen misterius yang diperkirakan membentuk sekitar 95 persen isi kosmos. Kini, teori terbaru membuka kemungkinan bahwa keduanya tidak benar-benar berdiri sendiri, melainkan dapat saling berinteraksi.
Menurut laporan Telset yang terbit pada 7 September 2026, gagasan tersebut muncul setelah pengamatan astronomi terbaru menunjukkan bahwa dark energy kemungkinan mengalami perubahan seiring waktu. Kondisi ini mendorong ilmuwan kembali mempertanyakan hubungan antara dua komponen gelap tersebut.
Dark Energy Ternyata Bisa Berubah
Selama ini, dark energy dan dark matter umumnya diperlakukan sebagai entitas yang terpisah. Dark energy diperkirakan mencakup sekitar 70 persen, sedangkan dark matter sekitar 25 persen dari isi alam semesta.
Keduanya sulit diamati secara langsung karena tidak memancarkan, memantulkan, maupun menyerap cahaya. Namun, keberadaannya dapat dipelajari melalui pengaruh terhadap struktur dan perkembangan alam semesta.
Pengamatan Dark Energy Spectroscopic Instrument (DESI) pada 2024 dan 2025 memberikan petunjuk bahwa dark energy mungkin tidak sepenuhnya konstan. Telset melaporkan, kekuatannya diduga mencapai nilai maksimum sekitar dua miliar tahun lalu sebelum kemudian mulai melemah.
Interaksi Gelap Bisa Menjawab Misteri Kosmos
Fisikawan Justin Khoury dari University of Pennsylvania telah meneliti kemungkinan interaksi dark energy dan dark matter sejak 2005. Dalam teori terbaru bersama Meng-Xiang Lin dan Mark Trodden, keduanya dimodelkan dapat mengalami perubahan energi secara bersamaan.
Salah satu kemungkinan yang muncul adalah sebagian energi dark matter berpindah ke dark energy. Jika benar, proses tersebut dapat membantu menjelaskan mengapa dark energy tampak memiliki perilaku yang tidak biasa.
Teori ini juga berkaitan dengan Hubble tension, yakni perbedaan pengukuran laju ekspansi alam semesta. Menurut Telset, pengukuran dari alam semesta awal dan pengamatan terhadap alam semesta yang lebih baru menunjukkan perbedaan sekitar 9 persen.
Ada Kemungkinan Dimensi Gelap
Gagasan lain yang turut dibahas adalah dark dimension atau dimensi gelap. Dalam teori string, dimensi tambahan diperkirakan dapat menjadi penghubung antara dark matter dan dark energy.
Jika konsep tersebut benar, perubahan ukuran dimensi gelap dapat memengaruhi sifat keduanya. Namun, teori ini masih menjadi bagian dari penelitian dan membutuhkan pengujian melalui pengamatan astrofisika lebih lanjut.
Misteri dark energy dan dark matter pun belum sepenuhnya terpecahkan. Meski demikian, kemungkinan keduanya saling berinteraksi dapat membuka jalan baru untuk memahami bagaimana alam semesta berkembang.
Sumber: Telset


















































