REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA, – Indonesia memerlukan tambahan sekitar 150 ribu insinyur dalam enam tahun ke depan untuk mendukung pengembangan industri digital. Hal ini disampaikan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, dalam keterangannya di Jakarta pada Kamis.
Menurut Airlangga, kebutuhan tersebut semakin spesifik di berbagai sektor strategis. Untuk industri semikonduktor saja, Indonesia diperkirakan memerlukan sekitar 15 ribu insinyur. "Kita butuh tambahan sekitar 45 persen dari jumlah engineer yang ada sekarang," kata Airlangga.
Pemerintah, melalui Kementerian Ketenagakerjaan, juga mendorong program pelatihan vokasi untuk mendukung retraining dan reskilling tenaga kerja. Airlangga menjelaskan bahwa program yang ditandatangani di London antara Danantara dan ARM Limited menyiapkan pelatihan untuk 15 ribu insinyur dalam ekosistem ARM.
Kesiapan Teknologi AI
Indonesia telah menunjukkan kesiapan dalam pengembangan teknologi kecerdasan buatan (AI), menjadi negara pertama di ASEAN yang menyelesaikan UNESCO AI Readiness Assessment. Ini menunjukkan bahwa Indonesia tidak hanya menjadi konsumen teknologi AI, tetapi juga mempersiapkan kerangka hukum, etika, dan sosial untuk pengembangan inovasi teknologi di masa depan.
Airlangga menyebutkan, industri yang cepat mengadopsi AI tercatat mampu meraih pendapatan hingga tiga kali lebih tinggi dibandingkan yang lambat beradaptasi, dengan peningkatan produktivitas dari 8,5 persen menjadi 27 persen. AI diproyeksikan berkontribusi 15,7 triliun dolar AS pada perekonomian dunia tahun 2030. Untuk Indonesia, teknologi AI generatif diperkirakan dapat menambah kontribusi ekonomi hingga 243,5 miliar dolar AS.
Pembangunan Berkelanjutan
Airlangga menekankan pentingnya peran insinyur dalam mendukung pembangunan berkelanjutan. Dunia diperkirakan membutuhkan investasi tahunan sekitar 4-7 triliun dolar AS untuk mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) pada 2030, terutama di sektor berbasis teknologi dan ramah lingkungan.
Digitalisasi dan keberlanjutan kini menjadi satu kesatuan dalam pembangunan ekonomi modern. Indonesia telah menjadi salah satu pusat inovasi berbasis digital di kawasan ASEAN, dengan valuasi ekonomi digital yang diproyeksikan mencapai 124 miliar dolar AS pada 2025.
Menko Airlangga menambahkan, Indonesia telah menetapkan target pembangunan dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025-2045, dengan target masuk dalam peringkat 45 besar Global Innovation Index pada 2030. Selain itu, data Cyber Security Index 2024 menunjukkan Indonesia berada pada Tier 1 atau kategori "role model".
"Tugas kita sebagai insinyur dan pembuat kebijakan adalah menyebarluaskan keberhasilan dari wilayah Tier 1 ke seluruh negeri, memastikan pertumbuhan digital yang seimbang. Bagi para insinyur, kita harus melampaui 'inovasi demi inovasi'," ujar Airlangga.
Konten ini diolah dengan bantuan AI.
sumber : antara

3 hours ago
2
















































