Sebuah kapal terlihat berlabuh di lepas pantai Dubai, Uni Emirat Arab, menyusul penutupan Selat Hormuz oleh Iran , 1 Maret 2026.
REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN -- Salah satu andalan Iran dalam 'mengamankan" Selat Hormuz dalam pertempuran melawan AS-Israel adalah drone bawah air siluman (UUV) Azhdar.
Seperti dilaporkan Defence Security Asia, drone bertenaga listrik punya Iran ini meningkatkan kecemasan strategis di seluruh komando angkatan laut global karena propulsi baterai lithium yang hampir tanpa suara. Drone dapat bergerak senyap tanpa gesekan air.
Daya tahan baterai dan pembuatannya yang berbiaya rendah sangat mengancam pelayaran dunia yang coba masuk ke selat tersebut. Konsep operasional kendaraan bawah air tanpa awak Azhdar boleh dibilang mencerminkan pergeseran teknologi yang lebih luas dalam peperangan laut.
Model penyebaran drone berbasis kawanan ini mulai mengikis dominasi tradisional armada permukaan besar yang secara historis mengamankan jalur maritim sempit dan melindungi jalur pelayaran komersial bernilai tinggi.
Beroperasi dengan kecepatan sekitar 18 hingga 25 knot, drone bawah air Azhdar memberikan keseimbangan antara pergerakan senyap dan kemampuan manuver taktis.
Sistem ini memungkinkan drone berpatroli di koridor maritim yang diperebutkan sambil mempertahankan fleksibilitas operasional untuk misi pengawasan, pencegahan, atau serangan terhadap kapal militer dan lalu lintas pelayaran komersial.
Profil daya tahan kendaraan—mampu beroperasi terus menerus hingga empat hari—merupakan bagian penting operasional yang signifikan untuk sistem drone bawah air seperti di Selat Hormuz.
Hal itu memungkinkan drone untuk memantau, membuntuti, dan berpotensi menyerang target tanpa memerlukan pengawasan manusia terus-menerus atau tautan komando langsung.
Dengan jangkauan operasional yang diproyeksikan melebihi 600 kilometer, kendaraan bawah air tak berawak Azhdar dapat dengan tenang melintasi perairan sempit Teluk Persia dan jalur pelayaran di sekitarnya. Hal itu mempersulit perencanaan perlindungan kekuatan angkatan laut untuk armada regional dan koalisi maritim internasional.
Karena drone bawah air tidak memerlukan akomodasi awak atau sistem pendukung kehidupan di dalamnya, platform Azhdar dapat mengalokasikan lebih banyak volume internal untuk penyimpanan energi dan muatan misi.
Dalam lingkungan seperti itu, kendaraan tanpa awak yang beroperasi di bawah permukaan dan memiliki kemampuan siluman dapat menciptakan ketidakpastian bagi komandan angkatan laut yang bertanggung jawab untuk melindungi kapal dagang melalui koridor maritim yang sempit dan padat lalu lintas.
Oleh karena itu, potensi pengerahan kendaraan bawah air tak berawak Azhdar oleh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) oleh Iran menghadirkan variabel yang mengganggu dinamika keamanan Teluk.

2 hours ago
2

















































