Iran dan Oman capai kesepakatan rute sementara di Selat Hormuz. Meski begitu, Tehran mengingatkan ancaman blokade AS masih membayangi.(AFP)
IRAN menyatakan telah mencapai kesepakatan dengan Oman mengenai rute pelayaran sementara di Selat Hormuz. Jalur ini merupakan koridor vital yang biasanya dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menyebutkan "koordinat geografis rute" tersebut telah disepakati dan kini memasuki "tahap akhir". Meski demikian, ia menegaskan kesepakatan dengan Oman tidak secara otomatis menjamin navigasi yang aman, sebab ancaman blokade angkatan laut dari Amerika Serikat (AS) masih berlangsung.
"Faktor-faktor yang membuat Selat Hormuz tidak aman masih ada dari pihak Amerika Serikat, khususnya blokade angkatan laut serta tindakan agresif dan mengancam lainnya terhadap Iran dan kepentingannya," ujar Baqaei, mengutip kantor berita resmi Iran, IRNA.
Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, menambahkan bahwa jalur baru ini bersifat sementara dan diperkirakan dapat beroperasi selama dua hingga empat bulan. Pihak AS dan Oman belum memberikan komentar resmi terkait proposal ini.
Menurut laporan Reuters, kesepakatan yang diajukan juga mencakup hak kontrol bagi Tehran atas kapal-kapal yang memasuki Teluk. Selain itu, masalah tarif perlintasan menjadi titik krusial. Iran mengusulkan biaya 5% hingga 7% dari nilai kargo, Oman mendiskusikan angka sekitar 3%, sementara Washington menolak adanya biaya sama sekali.
Sejak serangan AS dan Israel ke Iran pada akhir Februari yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, Iran memblokir Selat Hormuz dan mewajibkan seluruh perlintasan mendapatkan izin terlebih dahulu. Penutupan jalur ini memicu guncangan pada harga energi global. Pada perdagangan Kamis pagi di Asia, harga minyak mentah acuan Brent tercatat turun tipis 0,3% ke level $79,24 per barel.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump memberi peringatan keras bahwa Iran akan "dihantam sangat keras" jika selat tersebut tidak segera dibuka. Pernyataan ini muncul di tengah laporan pejabat AS mengenai adanya kemajuan diskusi, meski Iran menegaskan tidak bernegosiasi secara langsung dengan AS.
Eskalasi konflik ini juga dibayangi ketidakpastian politik di internal Iran. Presiden Masoud Pezeshkian mengonfirmasi bahwa komunikasi dengan penerus pimpinan tertinggi, Mojtaba Khamenei—yang terluka dalam serangan Februari lalu dan belum pernah tampil di publik—saat ini sangat sulit. Meski demikian, Pezeshkian menepis spekulasi miring dan menegaskan bahwa ia telah menggelar pertemuan produktif dengan Mojtaba. (BBc/Z-2)

















































