Iran capai kesepakatan rute pelayaran sementara di Selat Hormuz bersama Oman. Presiden AS Donald Trump ancam tindakan tegas jika jalur minyak dunia tak segera dibuka.(afp)
PEMERINTAH Iran mengklaim telah mencapai kesepakatan dengan Oman terkait rute pelayaran di Selat Hormuz. Jalur maritim strategis ini telah terganggu sejak konflik bersenjata pecah antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel pada akhir Februari lalu.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menyatakan bahwa kesepakatan mengenai "koordinat geografis rute" tersebut sudah memasuki tahap akhir. Namun, ia memperingatkan bahwa perjanjian dengan Oman saja tidak menjamin keamanan navigasi di kawasan tersebut. Baqaei menilai keamanan pelayaran masih terancam akibat blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
"Faktor-faktor yang membuat Selat Hormuz tidak aman masih ada dari pihak Amerika Serikat, khususnya blokade angkatan laut serta tindakan agresif dan mengancam lainnya terhadap Iran dan kepentingannya," kata Baqaei, mengutip kantor berita resmi Iran, IRNA.
Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, menambahkan bahwa rute baru ini bersifat sementara dan diperkirakan akan tetap dibuka selama dua hingga empat bulan. Hingga kini, pihak AS dan Oman belum memberikan komentar resmi terkait usulan tersebut.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump melayangkan peringatan keras kepada Tehran. Trump menegaskan bahwa Iran akan "dihantam sangat keras" jika Selat Hormuz tidak segera dibuka. Pernyataan ini muncul setelah pejabat senior AS menyebut adanya kemajuan dalam pembicaraan untuk memulihkan arus pengiriman barang. Namun, Iran membantah telah melakukan negosiasi langsung dengan pihak Washington.
Selat Hormuz merupakan jalur vital perdagangan global yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia. Sejak konflik dimulai, lalu lintas kapal melorot drastis akibat tindakan tegas Iran yang mewajibkan izin melintas dan menyerang kapal-kapal yang mengabaikan aturan tersebut. Salah satu poin krusial yang menjadi perdebatan antara Tehran dan Washington adalah ancaman Iran untuk memungut biaya dari kapal yang melintas.
Upaya diplomasi sebelumnya sempat membuahkan Nota Kesepahaman (MoU) antara Iran dan AS pada Juni lalu untuk menghentikan pertempuran dan membuka kembali Selat Hormuz. Namun, kesepakatan tersebut runtuh dalam hitungan hari setelah aksi saling serang kembali berkobar, disusul tindakan blokade pelabuhan oleh kedua belah pihak di kawasan tersebut. (BBC/Z-2)

















































