Iran Uji Coba Rudal Elektro-Optik Perdana Targetkan Kapal Perang AS

1 week ago 7
Iran Uji Coba Rudal Elektro-Optik Perdana Targetkan Kapal Perang AS Ilustrasi.(Magnific)

IRAN dilaporkan menggunakan rudal elektro-optik terbarunya untuk pertama kali dalam upaya serangan terhadap kapal perang Amerika Serikat (AS) pada Rabu (9/9) waktu setempat. Langkah ini merupakan bagian dari kampanye pembalasan Teheran terhadap kehadiran armada militer Amerika di kawasan tersebut.

Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) meluncurkan gelombang serangan semalam yang menargetkan pasukan AS di Yordania serta 10 kapal perang AS di sekitar Selat Hormuz. Laporan dari The Telegraph menyebutkan bahwa serangan terhadap kapal-kapal tersebut diduga menggunakan pencari elektro-optik (electro-optical seekers), teknologi rudal yang memanfaatkan kamera dan sensor cahaya untuk melacak serta menghantam target dengan presisi tinggi.

Komando Pusat AS (US Central Command) mengonfirmasi serangan tersebut. Namun, para pejabat mencatat bahwa upaya serangan itu gagal, termasuk serangan di Yordania, karena rudal-rudal Iran berhasil dicegat oleh sistem pertahanan udara.

Teknologi tanpa GPS dan Anti-Jamming

Iran sebelumnya memperkenalkan rudal balistik baru bernama Qassem Bassir pada akhir tahun lalu. Rudal jarak menengah ini dilengkapi dengan sensor canggih yang diklaim mampu melakukan serangan presisi tanpa bergantung pada sinyal GPS. Hal ini membuat senjata tersebut lebih sulit dilumpuhkan oleh sistem pengacak sinyal (jamming).

Mohsen Rezaei, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran yang baru dilantik, mengisyaratkan ada debut rudal khusus antipenghancur (special anti-destroyer) dalam serangan Rabu tersebut. Ia memuji penggunaan senjata baru ini sebagai bagian dari pendekatan baru dalam kebijakan pertahanan negara. Meski demikian, belum dapat dipastikan secara resmi apakah Qassem Bassir adalah senjata spesifik yang digunakan dalam operasi semalam.

Eskalasi di Selat Hormuz dan Dampak Ekonomi

Serangan Iran itu disebut sebagai respons atas tindakan agresif AS sebelumnya yang menghancurkan lima tanker minyak di dekat pusat minyak Pulau Kharg milik rezim Teheran. Pihak Iran menyatakan bahwa angkatan bersenjatanya menggunakan hak pertahanan yang sah untuk menyerang fasilitas militer AS di Yordania dan kapal-kapal di perairan regional.

Situasi semakin memanas setelah IRGC mengeluarkan peringatan akan ada serangan lanjutan terhadap tanker minyak dan pangkalan militer di Bahrain serta Kuwait. Mereka menyerukan agar seluruh kru segera mengevakuasi kapal-kapal di wilayah tersebut.

Dampak Pasar Global: Lonjakan serangan balasan ini, ditambah dengan serangan pemberontak Houthi yang didukung Iran terhadap fasilitas minyak Arab Saudi, memicu kekhawatiran atas keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz. Wilayah ini merupakan jalur vital yang melayani 20% transportasi minyak dunia. Akibatnya, harga minyak mentah melonjak di atas US$100 per barel untuk pertama kali sejak Juli.

Hingga saat ini, ketegangan di Selat Hormuz terus dipantau secara ketat oleh komunitas internasional, mengingat potensi gangguan pasokan energi global yang lebih luas jika konflik terus berlanjut. (New York Post/I-2)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |