Ilustrasi.(Magnific)
MAYORITAS masyarakat Amerika Serikat meyakini bahwa perang yang berlangsung selama berbulan-bulan antara Amerika Serikat dan Iran gagal mencapai tujuannya. Berdasarkan jajak pendapat terbaru, konflik ini dipandang sebagai perang atrisi yang tidak berkelanjutan.
Survei Marquette Law School Supreme Court yang dilakukan pada akhir Juli menemukan bahwa 88% responden menyatakan AS belum mencapai tujuannya dibandingkan dengan hanya 12% yang menganggap perang tersebut sukses. Selain itu, 75% responden menilai perang ini tidak sebanding dengan biayanya, sementara 25% lain menganggap upaya tersebut sepadan.
Ambisi Nuklir dan Klaim yang Kontradiktif
Sepanjang perang yang kini memasuki bulan kelima, Presiden Donald Trump berulang kali menegaskan bahwa tujuan utamanya ialah memastikan Teheran tidak akan pernah memperoleh senjata nuklir. Namun, pemerintahan Trump memberikan pembaruan status yang dinilai kritikus kontradiktif mengenai kemampuan militer Iran dan kondisi program nuklirnya.
Trump dan Menteri Perang Pete Hegseth mengeklaim bahwa kemampuan nuklir Iran berkurang dan militernya hancur sejak awal perang. Namun, di tengah klaim tersebut, Iran tetap melancarkan serangan mematikan terhadap pasukan AS dan terus menyerang kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz. Nota kesepahaman yang gagal juga mencakup syarat bagi Teheran dan Washington untuk memindahkan material nuklir dari Iran, meskipun Trump sebelumnya membanggakan keberhasilan Operation Midnight Hammer dalam mengakhiri ambisi nuklir Iran.
Dampak Ekonomi dan Penutupan Selat Hormuz
Konflik itu berdampak langsung pada biaya hidup warga Amerika. Efek samping utama dari perang ini ialah penutupan Selat Hormuz, jalur pelayaran minyak vital yang dilalui 20% pasokan minyak dunia. Penutupan selat tersebut memicu kenaikan harga di dalam negeri dan mengguncang ekonomi global.
Pada Selasa (4/8), Trump menyatakan bahwa Iran dan Oman hampir mencapai resolusi terkait selat tersebut. Ia menambahkan bahwa jalur air itu akan segera dibuka, "Atau mereka akan dipukul sangat keras dan kemudian selat itu akan terbuka."
Biaya Manusia dan Finansial:
- Korban Jiwa: 14 tentara AS tewas dalam tugas dan 417 terluka dalam Operation Epic Fury.
- Biaya Moneter: Estimasi biaya perang mencapai Rp596,2 triliun (US$37,5 miliar).
- Anggaran Tambahan: Departemen War mengajukan anggaran tambahan sebesar Rp1.065 triliun (US$67 miliar).
Implikasi Politik Menjelang Pemilu 2026
Menteri Hegseth menyampaikan rincian biaya tersebut kepada Komite Alokasi Senat bulan lalu bersama Ketua Kepala Staf Gabungan, Jenderal Dan Caine. Besarnya beban finansial dan ketidakpastian hasil perang ini menjadi hambatan signifikan bagi Partai Republik (GOP) menjelang pemilihan paruh waktu 2026.
Partai Republik saat ini tengah berjuang keras untuk mempertahankan keunggulan tipis mereka di DPR serta mempertahankan kendali atas Senat di tengah ketidakpuasan publik yang meluas terhadap arah konflik di Timur Tengah tersebut. (Washington Examiner/I-2)

















































