ilustrasi(Magnific)
MERASA tenang atau bernapas lega beberapa menit setelah melewati situasi penuh tekanan ternyata bukanlah tanda bahwa otak Anda telah pulih sepenuhnya dari stres. Studi neurosains terbaru dari University College London (UCL) mengungkapkan bahwa pemulihan fisiologis dan emosional otak baru benar-benar terjadi sekitar satu jam (60 menit) setelah peristiwa stres berakhir.
Periode krusial 60 menit pasca-stres ini diidentifikasi oleh para ilmuwan sebagai "resilience window" (jendela ketahanan otak).
Mekanisme Transisi Jaringan Otak
Melalui pemindaian gelombang otak berbasis fMRI dan EEG terhadap subjek penelitian, tim peneliti memetakan perubahan aktivitas neurologis saat dan setelah stres:
- Peredaan Salience Network: Saat stres terjadi, jaringan alarm ancaman (salience network) mendominasi fokus otak. Tepat 60 menit setelah tekanan mereda, aktivitas jaringan alarm ini mulai surut secara signifikan.
- Aktivasi Default Mode Network: Setelah jaringan alarm mereda, sistem istirahat otak (default mode network) mengambil alih. Jaringan ini berfungsi memproses emosi, mengonsolidasi ingatan, dan menata ulang kondisi mental secara sehat.
- Peran Kunci Ketahanan Mental: Kualitas transisi neurologis dalam durasi 60 menit ini menentukan seberapa baik seseorang bangkit dari tekanan (mental resilience). Pada penderita depresi, transisi ini ditemukan berjalan lebih lambat.
Para pakar merekomendasikan untuk tidak langsung memaksakan otak mengerjakan tugas berat baru dalam rentang satu jam setelah mengalami stres berat. Melakukan aktivitas rileksasi ringan seperti jalan santai, menghindari media sosial, dan olah napas terbukti membantu otak menyelesaikan proses pemulihan alaminya.
(Mindbodygreen/P-4)


















































