Petani kopi di kawasan lereng Gunung Halimun, Kecamatan Tangse, Pidie, Aceh.(MI/Amiruddin Abdullah Reubee)
PETANI kopi di kawasan lereng Gunung Halimun, Kecamatan Tangse, Kabupaten Pidie, Aceh, resah menjelang musim panen raya yang diperkirakan berlangsung pada November-Desember 2026. Mereka khawatir harga biji kopi kembali turun akibat permainan harga di tingkat pengumpul dan tengkulak.
Kawasan penghasil kopi tersebut meliputi Gampong Blang Pandak, Ranto Panyang, dan sebagian wilayah Blang Dhot. Kopi yang dihasilkan petani setempat dikenal memiliki aroma khas dan menjadi salah satu komoditas perkebunan utama masyarakat di dataran tinggi Tangse.
Waktu panen di sejumlah wilayah Tangse tidak berlangsung bersamaan. Beberapa daerah telah memasuki masa panen sejak April hingga September 2026, sedangkan kawasan lereng Gunung Halimun diperkirakan baru memasuki panen raya pada November dan Desember.
Perbedaan waktu panen dipengaruhi masa berbunga tanaman kopi yang tidak serentak. Di Gampong Ulee Gunong, misalnya, tanaman kopi memasuki masa berbunga lebih awal. Sementara di kawasan lereng Gunung Halimun, termasuk Blang Pandak, masa berbuah berlangsung berbeda. Perbedaan waktu satu hingga dua bulan juga terjadi di Jambo Mie, Krue Meriam, dan Peunalom.
Petani mengkhawatirkan harga kembali turun ketika produksi meningkat pada puncak panen. Kekhawatiran tersebut mengacu pada pengalaman musim panen sebelumnya ketika harga kopi cenderung menurun setelah memasuki masa panen raya.
Berdasarkan penelusuran Media Indonesia, harga tiga jenis kopi utama di Tangse saat ini mengalami penurunan dibandingkan awal musim panen. Kopi robusta yang sebelumnya mencapai Rp65.000 per kilogram kini berada di kisaran Rp60.000 per kilogram. Kopi arabika turun dari Rp90.000 menjadi Rp80.000 per kilogram, sedangkan kopi liberika atau kopi panah turun dari Rp62.000 menjadi Rp55.000 per kilogram.
Tokoh masyarakat Tangse yang juga Pawang Hutan Kabupaten Pidie dan petani kopi, Fakhruddin, mengatakan penurunan harga masih berpotensi berlanjut ketika panen raya berlangsung.
“Sudah menjadi kebiasaan, kalau musim panen harganya turun. Pembeli pengumpul dan tengkulak sering beralasan barang lagi melimpah. Itu alasan tidak masuk akal. Bagaimana mungkin panen di Pidie bisa memengaruhi harga pasar global,” ujar Fakhruddin, Rabu (9/9).
Menurut dia, petani menghadapi posisi tawar yang lemah karena sebagian besar hasil panen dijual kepada pengumpul. Kondisi tersebut membuat petani sulit menentukan harga jual ketika produksi meningkat.
Fakhruddin menyayangkan kondisi tersebut terus terjadi tanpa pengawasan yang memadai. Padahal, hasil perkebunan kopi menjadi sumber pendapatan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan keluarga, termasuk biaya pendidikan anak.
Kopi juga menjadi sumber penghidupan masyarakat secara turun-temurun di Kecamatan Tangse, Mane, dan Geumpang. Karena itu, petani berharap pemerintah memperkuat pengawasan perdagangan dan menciptakan mekanisme pemasaran yang lebih adil.
Petani kopi lainnya, Nurdin, mengatakan harga jual biji kopi belum sepenuhnya mencerminkan nilai komoditas tersebut. “Karena harga panen gabah biji kopi tidak seenak aroma seduhan air kopi, maka selama itu pula kesejahteraan tidak berpihak kepada petani. Kemakmuran selalu melimpah ke hilir,” tutur Nurdin.
Petani berharap pemerintah dan pemangku kepentingan terkait mengambil langkah untuk mencegah praktik perdagangan yang merugikan petani, terutama menjelang panen raya. (E-2)


















































