Siti Fatimah, korban tewas kebakaran KM Sentosa 2, dimakamkan di Makassar. Duka keluarga bertambah karena rumah mereka di Tallo telah lebih dulu ludes terbakar dalam kebakaran hebat.(MI/Lina Herlina)
TRAGEDI berlapis menyelimuti pemakaman Siti Fatimah, 57. Tidak hanya kehilangan nyawa akibat terbakarnya KM Sentosa 2 di Perairan Sumenep, Jawa Timur, kepulangannya ke kampung halaman justru disambut puing-puing rumah yang rata dengan tanah.
Tangkis keluarga pecah saat jenazah Siti diturunkan dari ambulans Biddokkes Polda Sulawesi Selatan, Selasa (4/8) malam. Anak almarhum yang selamat dari peristiwa yang sama itu pingsan dan harus dibopong kerabat ke dalam rumah.
Para pelayat harus menggotong peti jenazah melewati genangan lumpur dan reruntuhan kayu hangus. Sebab, akses jembatan menuju rumah almarhumah ambruk akibat kebakaran hebat yang melahap 56 rumah warga pada Jumat dini hari pekan lalu. Rumah yang dituju telah menjadi abu.
Pulang dan Duka
Kisah ini berawal dari kepanikan. Siti Fatimah baru saja menjemput anak bungsunya, Nurul Iksan, bekerja sebagai TKI di Taiwan, yang pulang via Jakarta.
Namun rencana mereka berubah haluan saat menerima informasi rumah mereka di Tallo ludes terbakar. Tidak sabar, mereka memilih jalur laut dengan menumpangi KM Sentosa 2 dari Surabaya menuju Makassar.
Di tengah perjalanan di Perairan Sumenep, Madura, Jawa Timur, kapal yang mereka tumpangi terbakar dan akhirnya tenggelam. Dalam kepanikan malam itu, Nurul Iksan berhasil menyelamatkan diri.
Siti Fatimah tidak seberuntung itu. Ia menjadi salah satu korban jiwa yang jasadnya baru bisa dievakuasi beberapa hari kemudian.
Keluarga korban, Irwan mengatakan jika niatnya pulang cepat karena dengar kabar rumah di Tallo kebakaran. "Mereka naik kapal laut dari Surabaya. Tapi di tengah jalan, kapalnya terbakar. Anaknya selamat, tapi ibunya meninggal dunia. Rumah di sini juga sudah habis. Kami kehilangan dua kali," serunya.
Jenazah Siti Fatimah dimakamkan di Tempat Pemakaman Keluarga di Kecamatan Manggala, Kota Makassar, Rabu (5/8) pukul 10.00 WITA.
Duka tidak hanya dirasakan oleh keluarga. Seluruh warga Tallo yang rumahnya turut hangus ikut merasakan getirnya kepulangan ini. (Z-2)

















































