Kalsel Nihil Titik Panas, Pengendalian Karhutla Kalbar-Kalteng Diperkuat

1 week ago 24
Kalsel Nihil Titik Panas, Pengendalian Karhutla Kalbar-Kalteng Diperkuat Ilustrasi: Personel BPBD Provinsi Kalimantan Barat berjalan di lokasi lahan gambut yang terbakar di Dusun Sidomulyo, Desa Limbung, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, Minggu (2/8/2026).(ANTARA FOTO/Jessica Wuysang)

KEMENTERIAN Kehutanan bersama tim gabungan memperkuat pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama di wilayah yang masih menunjukkan konsentrasi hotspot tinggi. 

Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah menjadi perhatian utama, sementara Kalimantan Selatan tercatat nihil hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi atau high confidence.

Berdasarkan data SiPongi Kementerian Kehutanan yang bersumber dari satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20 hingga Rabu (9/9) pukul 21.04 WIB, secara nasional terdeteksi 395 hotspot high confidence. Jumlah itu turun dua titik dibandingkan sehari sebelumnya.

Pada enam provinsi prioritas pengendalian karhutla, hotspot high confidence terbanyak tercatat di Kalimantan Barat dengan 134 titik, disusul Kalimantan Tengah 81 titik. Sumatera Selatan mencatat 35 titik, Riau 15 titik, Jambi empat titik, sedangkan Kalimantan Selatan nihil.

“Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah menjadi perhatian karena masih menunjukkan konsentrasi hotspot yang cukup tinggi. Pengendalian terus diperkuat melalui patroli, groundcheck, pemadaman darat, serta dukungan operasi udara,” kata Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri Kementerian Kehutanan Ristianto Pribadi, Kamis (10/9). 

Menurut dia, nihilnya hotspot high confidence di Kalimantan Selatan menjadi perkembangan positif. Namun, kondisi tersebut tidak berarti kewaspadaan dapat diturunkan karena situasi karhutla dapat berubah mengikuti kondisi cuaca dan bahan bakar di lapangan.

Ristianto menjelaskan hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi satelit sehingga tidak serta-merta menunjukkan satu kejadian kebakaran. Satu kejadian kebakaran juga dapat terdeteksi menjadi beberapa hotspot.

“Karena itu, setiap indikasi hotspot tetap perlu diverifikasi melalui pengecekan langsung atau groundcheck untuk memastikan kondisi sebenarnya di lapangan,” ujarnya.

Manggala Agni Kementerian Kehutanan bersama TNI, Polri, BNPB, BMKG, BPBD, pemerintah daerah, masyarakat, dunia usaha, dan para pihak terus melakukan patroli, groundcheck, pemadaman langsung, penyekatan penjalaran api, mopping up, serta pendinginan.

Dukungan operasi udara juga terus disiagakan. Sebanyak 53 armada udara dikerahkan untuk mendukung pengendalian karhutla di enam provinsi prioritas. Sebanyak 19 armada digunakan untuk patroli udara dan mendukung Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), sedangkan 34 armada digunakan untuk operasi water bombing.

“Pengerahan operasi udara dilakukan menyesuaikan perkembangan hotspot, hasil verifikasi lapangan, kondisi kebakaran, dan kondisi meteorologis. OMC juga tetap disiagakan untuk memanfaatkan potensi awan yang memungkinkan pembentukan hujan dan membantu pembasahan lahan,” kata dia. 

Khusus pada lahan gambut, operasi pembasahan dan pendinginan terus dilakukan karena bara dapat bertahan di bawah permukaan meski api tidak lagi terlihat secara langsung.

Selain kondisi titik panas, pemerintah turut memantau kualitas udara dan sebaran asap. Pemantauan PM2,5 menunjukkan kondisi udara di Indonesia masih bervariasi. Sebagian besar wilayah berada pada kategori baik hingga sedang, tetapi sejumlah wilayah di Kalimantan masih terpantau pada kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat, bahkan sebagian area berada pada kategori berbahaya.

Berdasarkan pemantauan meteorologi penerbangan BMKG pada Rabu (9/9) siang sekitar pukul 12.47 WIB, jarak pandang di Pontianak tercatat sekitar 2 kilometer dan berasap. Palangka Raya sekitar 4,5 kilometer, Palembang 5 kilometer, Pekanbaru 4 kilometer, dan Jambi 3 kilometer, seluruhnya dalam kondisi berasap. Sementara Banjarmasin memiliki jarak pandang sekitar 9 kilometer dengan kondisi cerah berawan.

“Kondisi jarak pandang bersifat dinamis dan dapat berubah mengikuti konsentrasi asap, arah dan kecepatan angin, kelembapan, hujan, serta perkembangan kebakaran di lapangan,” ujar Ristianto.

Kementerian Kehutanan bersama seluruh pihak terkait terus memantau hotspot, kondisi api di lapangan, kualitas udara, sebaran asap, cuaca, curah hujan, dan jarak pandang sebagai dasar menentukan prioritas operasi berikutnya.

Masyarakat diimbau tidak membuka maupun membersihkan lahan dengan cara membakar. Warga juga diminta segera melaporkan apabila menemukan asap, titik api, atau indikasi kebakaran agar dapat ditindaklanjuti sedini mungkin.

(P-4)

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |