Ilustrasi(Antara)
KEBAKARAN hutan dan lahan (karhutla) melanda tujuh distrik di Kabupaten Nabire, Papua Tengah, sejak 18 Juli hingga 23 Agustus 2026. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat luas area yang terbakar mencapai 396,13 hektare.
Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan, kebakaran terjadi di sejumlah wilayah Nabire dan dipengaruhi kondisi lingkungan serta cuaca yang mendukung penyebaran api.
"Kebakaran diduga dipicu oleh kondisi cuaca panas, angin kencang, serta banyaknya semak dan ilalang kering di wilayah tersebut," kata dia.
Berdasarkan pendataan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Nabire, tujuh distrik yang terdampak karhutla yakni Teluk Kimi, Nabire Kota, Nabire Barat, Wanggar, Nabire, Makimi, dan Yaur.
BNPB melalui Direktorat Pengendalian Operasi juga mencatat empat kepala keluarga terdampak langsung akibat kejadian tersebut. Saat ini, mereka mendapat pendampingan dari tim petugas gabungan yang dikoordinasikan melalui BPBD Kabupaten Nabire.
Hingga Minggu (23/8), sejumlah titik api masih belum berhasil dipadamkan. Kondisi medan dan keterbatasan akses menjadi salah satu kendala utama karena lokasi kebakaran tidak dapat dijangkau armada pemadam melalui jalur darat.
Pemerintah Kabupaten Nabire telah meminta dukungan pemerintah pusat untuk mempercepat penanganan kebakaran. Bantuan yang dibutuhkan mencakup pengerahan helikopter pemadam melalui metode water bombing serta penambahan armada pemadam kebakaran.
"Sebagian titik api masih belum dapat dipadamkan, karena tidak dapat dijangkau armada pemadam kebakaran, membutuhkan dukungan lebih lanjut berupa water bombing dan tambahan armada pemadam," katanya.
Kondisi tersebut membuat penanganan karhutla di Nabire membutuhkan dukungan operasi udara dan tambahan sarana pemadaman, terutama untuk menjangkau titik api yang berada di wilayah dengan akses darat terbatas. (Ant/E-4)













































