Kasus Percobaan Bunuh Diri Siswa Melonjak hingga 2,7 Kali Lipat, Ini Faktor Penyebabnya

2 weeks ago 5
Kasus Percobaan Bunuh Diri Siswa Melonjak hingga 2,7 Kali Lipat, Ini Faktor Penyebabnya Ilustrasi(Dok Magnific)

KEMENTERIAN Kesehatan (Kemenkes) mengimbau pentingnya deteksi dini masalah kesehatan mental seiring melonjaknya angka percobaan bunuh diri di kalangan pelajar. Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Dante Saksono Harbuwono mengungkapkan, kasus percobaan bunuh diri pada siswa mengalami peningkatan signifikan hingga 2,7 kali lipat berdasarkan data Global School-Based Student Health Survey.

Data tersebut mencatat lonjakan proporsi siswa yang mencoba mengakhiri hidup dari 3,9% pada 2015 menjadi 10,7% pada 2023. Rentang usia 11 hingga 17 tahun diidentifikasi sebagai kelompok yang paling rentan.

"Di siswa sekolah yang berpikiran untuk mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri itu ternyata naik 1,6 kali lipat. Hampir dua kali lipat percobaan bunuh diri dan pikiran bunuh diri yang ada di siswa," kata Dante di Jakarta, Jumat (4/9).

Ia menjelaskan bahwa fenomena ini menyerupai gunung es, di mana angka percobaan bunuh diri jauh lebih besar dibandingkan kasus kematian yang tercatat.

"Satu dari 10 siswa itu mencoba untuk mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Dan usia 11-17 merupakan usia yang rentan untuk mencoba untuk bunuh diri di kelompok usia yang kita lihat dan kita evaluasi," katanya.

Menurut Kemenkes, gangguan jiwa menjadi faktor terbesar kedua yang memengaruhi kualitas hidup seseorang setelah gangguan otot dan rangka. Saat ini, diperkirakan satu dari tujuh orang di dunia hidup dengan gangguan kejiwaan.

Untuk mencegah pemburukan kondisi mental, masyarakat diminta mewaspadai perubahan fisik, emosi, maupun perilaku yang berlangsung konsisten selama minimal dua minggu. Gejala tersebut meliputi gangguan tidur, perubahan berat badan, kecemasan berlebihan, mudah tersinggung, hingga penurunan konsentrasi.

"Kalau ini berlangsung selama dua minggu dari gangguan fisik, emosi, dan perilaku, sulit konsentrasi, perubahan pola bicara, dan aktivitas yang mencolok lebih dari dua minggu. Maka harus cepat-cepat diidentifikasi sebagai kelainan jiwa," katanya.

Dante menambahkan bahwa intervensi kesehatan jiwa harus dilakukan sedini mungkin, bahkan sejak masa kehamilan dan nifas. Pemerintah kini mengintegrasikan layanan skrining jiwa melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG) dan kuesioner pada aplikasi SatuSehat. Selain itu, Kemenkes menyediakan Layanan Kesehatan Jiwa Healing119 yang dapat diakses melalui hotline 119 ekstensi 8.

Ia menekankan bahwa masyarakat umum dapat memberikan pertolongan pertama pada krisis kesehatan mental tanpa harus menjadi tenaga medis, yakni melalui langkah sederhana.

"Kita tidak harus menjadi ahli untuk jadi penolong mereka yang mengalami gangguan jiwa. Mulai dengan empat langkah sederhana: tanya, dengarkan, temani, dan hubungkan," ujarnya. (Ant/E-4)

Berita ini tidak ditujukan untuk menginspirasi tindakan bunuh diri. Jika Anda atau seseorang yang Anda kenal mengalami depresi, memiliki pemikiran untuk mengakhiri hidup, atau membutuhkan bantuan kesehatan mental, segera hubungi layanan krisis Kemenkes RI melalui Healing119 di hotline 119 (ekstensi 8), atau konsultasikan ke psikolog/psikiater terdekat.

Read Entire Article
Perekonomian | Teknologi | Alam | Otomotif | Edukasi | Lifestyle |