AI dalam tool kerja.(Dok. Magnific)
PERKEMBANGAN kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) kini telah mengubah peran perangkat lunak dalam dunia bisnis secara fundamental. Jika sebelumnya software hanya berfungsi sebagai tempat menyimpan dan mengelola data, saat ini teknologi tersebut bertransformasi menjadi fondasi utama yang memungkinkan AI menganalisis informasi serta mendukung pengambilan keputusan strategis perusahaan.
Mekari, perusahaan penyedia ekosistem Software as a Service (SaaS), menetapkan arah baru dalam pengembangan produknya dengan mendorong integrasi AI yang menyatu langsung ke dalam alur kerja atau workflow bisnis. Dalam sesi bersama media, Mekari menekankan bahwa AI akan bekerja jauh lebih efektif jika terhubung dengan data internal perusahaan dan berjalan di dalam sistem operasional, bukan sekadar menjadi fitur tambahan yang berdiri sendiri.
Chief Executive Officer (CEO) Mekari, Suwandi, menegaskan pentingnya konektivitas data agar teknologi kecerdasan buatan dapat berfungsi optimal bagi pelaku usaha. Menurutnya, kekuatan utama AI dalam konteks bisnis terletak pada kemampuannya mengolah data internal yang spesifik, bukan hanya memberikan jawaban umum layaknya chatbot pada umumnya.
“Kalau kita nggak connect data ini ke mana-mana, AI nggak bisa jawab,” kata Suwandi. Ia menambahkan bahwa integrasi data menjadi kunci agar AI mampu memberikan solusi yang relevan terhadap kebutuhan operasional perusahaan.
Namun, implementasi AI di Indonesia masih menghadapi tantangan besar terkait kerapian sistem dan pencatatan data. Mekari menyoroti bahwa masih banyak pelaku usaha yang belum memiliki sistem bisnis formal. Berdasarkan data yang dipaparkan, dari sekitar 64 juta hingga 66 juta usaha yang terdaftar, hanya sekitar 17,5 juta yang tercatat aktif melakukan transaksi secara formal. Kondisi ini menjadi hambatan karena AI tidak dapat bekerja secara maksimal tanpa dukungan data yang tertata.
Dalam laporannya, Mekari membagi kemampuan AI ke dalam tiga tahap pengembangan, yakni assess, re-evaluate, dan implementasi penuh dalam sistem. Dengan pendekatan ini, perusahaan berharap AI bukan lagi dianggap sebagai alat pelengkap, melainkan bagian inti dari ekosistem digital yang mendorong efisiensi dan pertumbuhan bisnis di masa depan. (Z-10)

















































